Sejumlah kawasan yang menjadi prioritas penanganan genangan di antaranya Tanjungsari, Simokalangan, Simorejo, Margorejo, Nginden Jangkungan, hingga Rungkut.
Menurut Eri, penanganan banjir dilakukan secara bertahap dengan mempertimbangkan tingkat kerawanan genangan serta kemampuan anggaran daerah. Sebelumnya, Pemkot Surabaya telah menyelesaikan penanganan di sejumlah kawasan yang selama ini menjadi titik langganan banjir, seperti Benowo, Pakal, dan Dukuh Kupang.
Ia menyebut kawasan Dukuh Kupang sebelumnya mengalami genangan selama puluhan tahun. Namun, melalui pembangunan infrastruktur, persoalan tersebut kini telah tertangani.
“Dulu kami selesaikan dulu yang di Benowo, Pakal, dan Dukuh Kupang. Di Dukuh Kupang, menurut cerita warga, genangannya sudah terjadi hampir 60 tahun. Alhamdulillah, kawasan itu sudah tertangani. Sekarang kami melanjutkan penanganan di titik-titik lain, seperti Margorejo, depan Ubaya, AWS, Tanjungsari, dan Simokalangan,” ujarnya.
Eri menegaskan, upaya pengendalian banjir tidak bisa hanya mengandalkan pembangunan rumah pompa. Pembenahan saluran air hingga ke lingkungan permukiman juga menjadi bagian penting agar aliran air dapat berjalan optimal.
“Selain rumah pompa, saluran air di perkampungan juga kami benahi. Karena penanganan genangan ini tidak cukup hanya mengandalkan rumah pompa, tetapi saluran airnya juga harus berfungsi dengan baik agar air bisa mengalir lancar,” jelasnya.