Penutupan kedua destinasi tersebut menjadi salah satu faktor yang memengaruhi mobilitas wisatawan, mengingat Bromo dan Ijen merupakan tujuan wisata alam yang banyak diminati pengunjung domestik maupun mancanegara.
Di tengah penurunan kunjungan wisatawan, sektor perhotelan Jawa Timur justru menunjukkan perkembangan positif. Tingkat Penghunian Kamar (TPK) hotel berbintang pada September 2026 tercatat mencapai 48,63 persen.
Capaian tersebut meningkat 0,23 poin dibandingkan Agustus 2026. Peningkatan okupansi hotel ini ditopang penyelenggaraan berbagai kegiatan Meeting, Incentive, Convention, and Exhibition (MICE), serta festival dan agenda berskala besar di sejumlah daerah.
Sejumlah kegiatan yang turut mendorong pergerakan sektor perhotelan di antaranya Karisma Event Nusantara (KEN) Festival Jaranan Trenggalek Terbuka, Kejurprov IBCA MMA Jawa Timur 2026 di Kota Blitar, Spectra Night Festival, dan B+Phoria Concert.
Selain itu, terdapat UMKM Expo Ekosistem Haji dan Umrah di Kota Madiun, Jatim Festival, serta IndoBuildTech Expo di Surabaya.
Herum menjelaskan, beragam agenda olahraga, seni budaya, hingga pameran bisnis tersebut memberikan kontribusi terhadap aktivitas perhotelan. Kehadiran peserta, pelaku usaha, dan pengunjung dari berbagai daerah turut menopang tingkat keterisian kamar hotel.
Kondisi ini memperlihatkan bahwa pergerakan sektor pariwisata Jawa Timur tidak hanya bertumpu pada destinasi wisata alam, tetapi juga ditopang penyelenggaraan kegiatan dan event yang mampu mendatangkan pengunjung.
Dengan demikian, penguatan agenda MICE dan festival daerah menjadi salah satu faktor penting dalam menjaga aktivitas industri perhotelan, terutama ketika sejumlah destinasi wisata unggulan mengalami gangguan operasional. (ivan)