Menurut Dyah, potensi tersebut perlu dikemas secara terintegrasi agar mampu menjadi daya tarik bagi wisatawan. Tidak hanya mengandalkan keberadaan destinasi, pengembangan desa wisata juga perlu memperhatikan konektivitas, aktivitas wisata, hingga kesiapan masyarakat dalam memberikan pelayanan kepada pengunjung.
Salah satu potensi yang disoroti adalah Desa Wisata Candi Pari. Kawasan tersebut memiliki daya tarik berupa situs bersejarah Candi Pari, kampung wisata pisang cavendish, serta pengembangan produk berbasis lidah buaya.
Berbagai potensi itu dinilai dapat dikembangkan menjadi satu paket wisata yang lebih menarik melalui konektivitas dengan agen perjalanan. Dengan demikian, Desa Wisata Candi Pari diharapkan mampu menjangkau pasar wisata yang lebih luas, baik tingkat lokal, nasional, maupun internasional.
Selain wisata sejarah dan produk olahan lokal, Dyah juga melihat kawasan persawahan di Sidoarjo berpeluang dikembangkan sebagai destinasi wisata edukasi berbasis pertanian.
Wisatawan nantinya tidak hanya menikmati pemandangan persawahan, tetapi juga dapat terlibat dalam proses pengolahan hasil pertanian hingga menjadi kuliner tradisional khas Sidoarjo.
Sementara itu, salah satu pemilik agen perjalanan menyambut positif inisiatif Disbudpar Jatim dalam mempertemukan pengelola desa wisata dengan pelaku industri perjalanan.