Khofifah Dorong Pendampingan Psikologis Anak Korban Gempa NTT

parlemen | 25 Agustus 2026 10:33

Khofifah Dorong Pendampingan Psikologis Anak Korban Gempa NTT
Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa menggendong seorang anak korban gempa sekaligus memberikan pendampingan trauma healing untuk membantu memulihkan kondisi psikologis anak terdampak bencana di NTT. (dok mili)

NTT, PustakaJC.co - Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa mendorong pendampingan psikososial secara berkelanjutan bagi anak-anak terdampak gempa bumi di Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT). Menurutnya, pemulihan pascabencana tidak cukup hanya dengan memenuhi kebutuhan dasar, tetapi juga perlu memperhatikan kondisi psikologis anak.

 

Khofifah mengatakan, anak-anak merupakan salah satu kelompok yang membutuhkan perhatian khusus setelah bencana. Pendampingan psikososial secara berkelanjutan diperlukan agar mereka dapat kembali merasa aman, ceria, dan memiliki keberanian untuk menatap masa depan. Dilansir dari mili.id, Selasa, (25/8/2026).

 

Hal tersebut disampaikan Khofifah saat mengunjungi sekaligus menyerahkan bantuan kemanusiaan Pemerintah Provinsi Jawa Timur bersama dukungan corporate social responsibility (CSR) di SD Inpres Robo, Desa Ranaka, Kecamatan Wae Ri’i, Kabupaten Manggarai, Minggu, (23/8/2026).

 

Dalam kunjungannya, Khofifah berupaya menciptakan suasana yang lebih ceria dengan mengajak anak-anak berbincang mengenai cita-cita mereka. Ia menanyakan siapa di antara mereka yang ingin menjadi gubernur maupun bupati.

 

“Ada yang ingin jadi gubernur? Coba angkat tangan. Ada yang ingin jadi bupati? Coba angkat tangan,” ujar Khofifah.

 

 

Pertanyaan tersebut disambut antusias oleh anak-anak. Sejumlah anak mengangkat tangan sambil menyampaikan cita-cita masing-masing.

 

Khofifah kemudian memberikan semangat agar kondisi bencana tidak membuat anak-anak kehilangan harapan untuk meraih masa depan.

 

“Mudah-mudahan semua cita-cita kalian tercapai. Yang ingin jadi tentara atau polisi, semoga bisa menjadi jenderal. Jadilah anak-anak Indonesia yang luar biasa,” katanya.

 

 

Ia juga memastikan kesiapan anak-anak untuk kembali mengikuti kegiatan belajar mengajar apabila sekolah telah dinyatakan aman dan dapat digunakan kembali.

 

“Kalau sekolah sudah bisa digunakan, siap sekolah lagi?” tanya Khofifah.

 

“Siap!” jawab anak-anak secara serentak.

 

 

 

Khofifah mengapresiasi semangat tersebut. Menurutnya, kembalinya anak-anak ke sekolah menjadi bagian penting dalam memulihkan rutinitas sekaligus membangun kembali rasa percaya diri setelah mengalami bencana.

 

Suasana semakin ceria ketika Khofifah mengajak anak-anak bernyanyi bersama. Lagu Hari Merdeka dan Garuda Pancasila dinyanyikan dengan penuh semangat. Anak-anak mengikuti nyanyian sambil melakukan berbagai gerakan dan tepuk tangan.

 

Di tengah kondisi masyarakat yang masih menjalani masa pemulihan, kegiatan tersebut menjadi momen untuk menghadirkan kembali suasana bermain dan belajar bagi anak-anak.

 

Khofifah mengatakan, Pemerintah Provinsi Jawa Timur telah mengirimkan tim Layanan Dukungan Psikososial (LDP) untuk memberikan pendampingan kepada masyarakat terdampak bencana.

 

“Kami mengirim tim LDP, layanan dukungan psikososial. Tim LDP ini ada empat orang yang sudah tiga hari berada di sini. Jadi ini tim trauma healing. Yang bisa kita lakukan adalah memberikan penguatan kepada anak-anak, bapak-ibu, dan lansia,” jelasnya.

 

Menurut Khofifah, pendampingan tidak hanya ditujukan kepada anak-anak. Orang tua dan kelompok lanjut usia juga menjadi sasaran karena sama-sama membutuhkan dukungan psikologis setelah mengalami bencana.

 

Ia menegaskan bahwa pemulihan kondisi psikososial membutuhkan proses dan tidak bisa diselesaikan melalui satu kali kegiatan. Karena itu, pendampingan harus dilakukan secara konsisten selama masyarakat masih berada dalam tahapan pengungsian dan pemulihan.

 

“Prosesnya tidak cukup hanya sekali. Penguatan, konseling dan trauma healing ini membutuhkan waktu. Karena itu, pendampingan harus terus dilakukan agar anak-anak, bapak-ibu dan lansia bisa kembali kuat setelah menghadapi bencana,” ungkapnya.

 

 

Khofifah menjelaskan, pengalaman menghadapi gempa dapat meninggalkan rasa takut dan tekanan psikologis, terutama bagi anak-anak. Melalui pendampingan yang tepat, mereka diharapkan perlahan dapat kembali merasa aman, beraktivitas secara normal, belajar, bermain, serta berinteraksi dengan lingkungan sekitar.

 

Ia juga mengajak orang tua, guru, tenaga kesehatan, relawan, pemerintah daerah, dan masyarakat untuk bersama-sama menciptakan lingkungan yang mendukung proses pemulihan psikologis anak-anak.

 

“Kita semua bersaudara. Kita hadir bersama-sama untuk membantu saudara-saudara kita di sini,” tutur Khofifah.

 

Kepada anak-anak, Khofifah berpesan agar mereka tetap kuat dan tidak kehilangan semangat meskipun tengah menghadapi masa sulit akibat bencana.

 

“Anak-anakku, kalian tidak sendiri. Kita semua bersaudara. Tetap semangat, sehat dan kuat untuk menghadapi ujian ini. Mudah-mudahan yang sakit segera sembuh dan anak-anak dengan ceria dan semangatnya bisa kembali bersekolah untuk mencapai cita-cita yang luar biasa,” pesannya.

 

 

 

Khofifah menambahkan, penanganan bencana harus dilakukan secara menyeluruh. Bantuan logistik diperlukan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, layanan kesehatan mendukung pemulihan fisik, sedangkan dukungan psikososial berperan membantu masyarakat membangun kembali kekuatan mental setelah mengalami bencana.

 

Dengan pendekatan tersebut, proses pemulihan diharapkan tidak hanya membuat masyarakat mampu kembali menjalani kehidupan sehari-hari, tetapi juga membantu anak-anak dan kelompok rentan bangkit dengan rasa aman, optimisme, serta semangat untuk kembali mengejar masa depan. (ivan)