SURABAYA, PustakaJC.co - Pemerintah Provinsi Jawa Timur (Pemprov Jatim) terus mendorong penguatan ekosistem halal dan ekonomi syariah guna meningkatkan daya saing produk daerah. Langkah ini dilakukan melalui kolaborasi erat antara pemerintah daerah, Bank Indonesia, pelaku usaha, lingkungan pesantren, perguruan tinggi, serta berbagai pemangku kepentingan terkait.
Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa, menegaskan bahwa pengembangan ekonomi syariah di wilayahnya harus berjalan selaras dengan pembenahan ekosistem halal secara menyeluruh. Dilansir dari kominfojatim.go.id, Selasa, (29/9/2026).
“Penguatan ekosistem halal ini perlu diperseiringi dengan penguatan sektor ekonomi syariah,” ujar Khofifah saat membuka Festival Ekonomi Syariah (FESyar) Regional Jawa 2026 di Surabaya, Jumat, (25/9/2026).
Infrastruktur dan sarana pendukung ekosistem halal di Jawa Timur saat ini tercatat mengalami pertumbuhan signifikan. Hingga pertengahan 2026, Jatim telah memiliki 22 zona kuliner Halal, Aman, dan Sehat (KHAS), 804 destinasi pariwisata ramah muslim, serta 56 sentra dan kawasan halal.
Perkembangan positif juga terlihat pada percepatan sertifikasi halal bagi para pelaku usaha. Hingga Agustus 2026, tercatat sebanyak 703.853 sertifikat halal telah diterbitkan di Jawa Timur, yang mencakup sekitar 1,8 juta produk.
“Ini menjadi modal untuk memperkuat kepercayaan konsumen dan meningkatkan daya saing produk Jawa Timur,” tegas Khofifah.
Atas komitmen tersebut, Pemprov Jatim berhasil menyabet penghargaan peringkat pertama Indonesia Halal Industry Award (IHIA) 2026 dari Kementerian Perindustrian RI untuk kategori Lembaga Pemerintahan Pendukung Program Halal Subkategori Pemerintah Daerah Provinsi.
Guna memperluas akses pasar, Pemprov Jatim secara konsisten menggelar program Misi Dagang yang dikombinasikan dengan pertemuan industri halal. Dalam agenda terbaru, terjalin komitmen transaksi yang nilainya mencapai sekitar Rp6,7 triliun.
Rangkaian komitmen bisnis tersebut dijadwalkan bakal ditindaklanjuti melalui pertemuan lanjutan dan kunjungan calon investor yang berlangsung secara bertahap mulai Oktober, November, hingga awal Januari mendatang.
“Ini bagian dari penguat sistem ekonomi halal yang sedang kita tumbuh kembangkan,” tambah Khofifah.
Pada kesempatan yang sama, Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia, Destry Damayanti, menyampaikan apresiasi atas konsistensi Jawa Timur sebagai tuan rumah FESyar Regional Jawa yang kini memasuki penyelenggaraan ke-13.
Destry mengungkapkan, FESyar yang berawal dari Jawa Timur ini terbukti menjadi cikal bakal sekaligus inspirasi lahirnya ajang ekonomi syariah berskala nasional, yakni Indonesia Sharia Economic and Financial Festival (ISEF).
“Ini nampaknya tidak cukup kalau dibawa di level regional. Kita harus bawa ini ke level pusat,” ungkap Destry menjelaskan sejarah transisi gelaran tersebut ke tingkat nasional.
Meskipun ISEF kini mencakup skala yang lebih luas, FESyar Regional Jawa tetap dipertahankan pelaksanaannya di Jawa Timur sebagai bentuk konsistensi pengawalan agenda ekonomi dan keuangan syariah di Indonesia.
Penyelenggaraan FESyar Regional Jawa 2026 yang berlangsung pada 25–27 September 2026 di Surabaya ini sekaligus menjadi momentum kick-off berbagai program unggulan. Ajang ini melibatkan sektor UMKM, perbankan, akademisi, asosiasi pelaku usaha, pesantren, dan pemerintah daerah untuk mengusung penguatan literasi serta inklusi keuangan syariah menuju visi Indonesia Emas. (ivan)