Ekspor Jatim Januari–Oktober 2025 Tumbuh Pesat, Impor Justru Turun 3,56%

parlemen | 05 Desember 2025 18:39

Ekspor Jatim Januari–Oktober 2025 Tumbuh Pesat, Impor Justru Turun 3,56%
Ekspor Jatim Januari - Oktober 2025 Naik 16,64% Dibanding 2024. (dok jatimpos)

SURABAYA, PustakaJC.co - Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa menyampaikan apresiasi atas capaian positif kinerja ekspor Jawa Timur yang kembali menunjukkan tren pertumbuhan kuat sepanjang tahun 2025. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Timur, total ekspor migas dan nonmigas Jatim pada periode Januari–Oktober 2025 mencapai US$25,34 miliar, atau meningkat 16,64 persen dibandingkan periode yang sama tahun 2024.

 

Sebaliknya, impor Jawa Timur justru menurun. Sepanjang Januari–Oktober 2025, nilai impor tercatat US$24,25 miliar, atau turun 3,56 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Kondisi ini menunjukkan neraca perdagangan Jatim semakin membaik. Dilansir dari jatimpos.co, Jumat, (5/12/2025).

 

Menurut Gubernur Khofifah, capaian tersebut merupakan bukti bahwa produk-produk Jawa Timur semakin kompetitif di pasar global dan memberikan kontribusi signifikan bagi stabilitas ekonomi daerah.

 

“Kinerja ekspor yang terus tumbuh sementara nilai impor turun, ini membuktikan bahwa Jawa Timur memegang peranan penting dalam capaian ekspor nasional,” ujarnya di Surabaya, Kamis, (4/12/2025).

 

 

 

Khofifah menambahkan bahwa ekspor nonmigas—khususnya komoditas perhiasan atau permata—masih menjadi penopang utama. Nilai ekspor komoditas tersebut melonjak 40,30 persen, dengan peningkatan unit value mencapai 687,41 persen.

 

Selain itu, kelompok lemak serta minyak hewan/nabati juga mencatat pertumbuhan signifikan sebesar 41,35 persen, dan menyumbang 7,91 persen terhadap total ekspor Jatim sepanjang Januari–Oktober 2025.

 

Di periode yang sama, Swiss menjadi negara tujuan utama ekspor nonmigas dengan nilai mencapai US$4,08 miliar. Komoditas yang dikirim didominasi oleh perhiasan/permata, disusul kendaraan beserta komponennya serta perkakas dan peralatan non logam mulia.

 

“Jatim mengirim ekspor ke Swiss dengan komoditas utama perhiasan/permata senilai sekitar US$4,08 miliar, diikuti kendaraan dan bagiannya serta berbagai perkakas non logam mulia,” terangnya.

 

 

 

Sementara itu, pangsa ekspor terbesar berikutnya adalah Tiongkok dengan kontribusi 13,03 persen atau US$3,23 miliar, serta Amerika Serikat dengan kontribusi 12,33 persen atau US$3,06 miliar.

 

Menurut Khofifah, momentum pertumbuhan ekspor ini turut memperkuat kinerja ekonomi Jawa Timur. BPS mencatat ekonomi Jatim tumbuh 5,22 persen (y-on-y) pada Triwulan III-2025, lebih tinggi dari pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 5,04 persen. Bahkan, Jatim menjadi provinsi dengan pertumbuhan ekonomi triwulanan tertinggi di Pulau Jawa, mencapai 1,70 persen (q-to-q).

 

Dari sisi inflasi, Jawa Timur pada November 2025 tercatat 2,63 persen (y-on-y), yang masih berada dalam rentang normal 2,5 persen ± 1. Hal tersebut menunjukkan daya beli masyarakat tetap terjaga dan harga jual produksi masyarakat masih menguntungkan.

 

 

 

Gubernur Khofifah mengajak seluruh pemangku kepentingan di sektor perdagangan untuk terus memperkuat sinergi dan kolaborasi demi menjaga kinerja ekspor Jatim.

 

“Mari terus bersinergi dan berkolaborasi melalui berbagai langkah strategis untuk meningkatkan daya saing ekspor, sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi Jawa Timur yang berkelanjutan,” ujarnya.

 

Ia menegaskan bahwa Pemprov Jatim akan terus mendorong berbagai stimulus dan kebijakan untuk memperkuat ekspor nonmigas sebagai sektor prioritas.

 

“Upaya peningkatan kinerja ekspor nonmigas menjadi prioritas Pemerintah Provinsi Jawa Timur,”pungkasnya. (ivan)