Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan Jawa Timur Aries Agung Paewai menyampaikan, dari sekitar 4.300 sekolah di Jatim, saat ini 754 sekolah telah bergabung dalam program SIKAP.
“Tidak semua sekolah punya lahan luas. Tapi justru dari keterbatasan itu muncul kreativitas luar biasa,” ujar Aries.
Ia menjelaskan, program SIKAP dirancang agar siswa mampu menghubungkan materi pembelajaran dengan praktik lapangan, sehingga proses belajar menjadi lebih kontekstual dan bermakna.
“Hasil panen di SMA bisa dimanfaatkan bersama, sementara di SMK diarahkan sebagai pembelajaran kewirausahaan dan penguatan kompetensi,” katanya.
Melalui program SIKAP, Pemprov Jatim berharap sekolah tidak hanya menjadi pusat transfer ilmu, tetapi juga ruang pembentukan karakter, kemandirian, serta kepedulian terhadap ketahanan pangan dan lingkungan sejak dini. (ivan)