Program SIKAP Jatim Pecahkan Dua Rekor MURI, Libatkan 110 Ribu Siswa Dukung Ketahanan Pangan

parlemen | 26 Januari 2026 05:54

Program SIKAP Jatim Pecahkan Dua Rekor MURI, Libatkan 110 Ribu Siswa Dukung Ketahanan Pangan
Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa bersama Kepala Dinas Pendidikan Jawa Timur Aries Agung Paewai serta jajaran insan pendidikan melaksanakan penanaman benih sayuran di lahan SMKN 1 Plosoklaten sebagai penanda resmi peluncuran program unggulan SIKAP. (dok bhirawa)

KEDIRI, PustakaJC.co - Pemerintah Provinsi Jawa Timur resmi meluncurkan program Sekolah Inovatif Ketahanan Pangan (SIKAP) sebagai bagian dari dukungan terhadap agenda nasional swasembada pangan. Program ini langsung mencatatkan prestasi nasional dengan meraih dua Rekor Museum Rekor-Dunia Indonesia (MURI).

 

Peluncuran SIKAP ditandai dengan kegiatan tanam, tebar benih, dan panen serentak yang melibatkan 754 SMA, SMK, dan SLB di seluruh Jawa Timur, dengan total partisipasi 110.481 siswa, guru, dan unsur pramuka. Kegiatan puncak dipusatkan di SMKN 1 Plosoklaten, Kabupaten Kediri, Minggu, (25/1/2026).

 

Dua rekor MURI yang diraih yakni sebagai pelopor dan pelaksana program ketahanan pangan dengan jumlah satuan pendidikan terbanyak, serta inisiator penanaman produktif dan tebar benih ikan serentak dengan peserta terbanyak di Indonesia. Dilansir dari bhirawaonline.co.id, Senin, (26/1/2026).

 

Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa menegaskan, SIKAP tidak hanya berorientasi pada hasil pangan, tetapi juga menjadi media pembelajaran nyata bagi siswa.

 

“Ini bukan sekadar menanam. Ini adalah pembelajaran langsung. Anak-anak belajar dari praktik, learning by doing,” ujar Khofifah.

 

 

 

Menurutnya, keterbatasan lahan sekolah bukan hambatan. Justru sekolah didorong untuk kreatif memanfaatkan ruang yang ada agar tidak menjadi lahan tidur. Jenis tanaman dan komoditas disesuaikan dengan karakter wilayah masing-masing.

 

Selain sektor pertanian, SIKAP juga mengembangkan perikanan dan peternakan, seperti budidaya lele, ayam petelur, ayam pedaging, hingga ternak kambing dan sapi.

 

“Kebutuhan protein masyarakat tinggi. Sekolah bisa mulai dari yang sederhana, seperti lele atau ayam, tapi dikelola dengan serius,” katanya.

 

Khofifah menilai praktik ketahanan pangan di sekolah berfungsi sebagai laboratorium pembelajaran, meski bukan menjadi core business pendidikan formal. Ia bahkan menyebut pengelolaan peternakan di SMKN 1 Plosoklaten sudah menyerupai standar dunia kerja.

 

“Anak-anak sudah terbiasa sistem kerja, ada mentoring, ada offtaker. Ini luar biasa,” tegasnya.

 

 

Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan Jawa Timur Aries Agung Paewai menyampaikan, dari sekitar 4.300 sekolah di Jatim, saat ini 754 sekolah telah bergabung dalam program SIKAP.

 

“Tidak semua sekolah punya lahan luas. Tapi justru dari keterbatasan itu muncul kreativitas luar biasa,” ujar Aries.

 

Ia menjelaskan, program SIKAP dirancang agar siswa mampu menghubungkan materi pembelajaran dengan praktik lapangan, sehingga proses belajar menjadi lebih kontekstual dan bermakna.

 

“Hasil panen di SMA bisa dimanfaatkan bersama, sementara di SMK diarahkan sebagai pembelajaran kewirausahaan dan penguatan kompetensi,” katanya.

 

Melalui program SIKAP, Pemprov Jatim berharap sekolah tidak hanya menjadi pusat transfer ilmu, tetapi juga ruang pembentukan karakter, kemandirian, serta kepedulian terhadap ketahanan pangan dan lingkungan sejak dini. (ivan)