Defisit APBN Capai Rp135,7 Triliun hingga Februari 2026, Penerimaan Pajak Tumbuh 30 Persen

parlemen | 09 Maret 2026 04:49

Defisit APBN Capai Rp135,7 Triliun hingga Februari 2026, Penerimaan Pajak Tumbuh 30 Persen
menteri keuangan purbaya Yudhi sadewa (dok jawapos)

JAKARTA, PustakaJC.co – Pemerintah mencatat Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) hingga akhir Februari 2026 mengalami defisit sebesar Rp135,7 triliun. Nilai tersebut setara dengan 0,53 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) dan masih berada dalam batas yang dinilai aman bagi kondisi fiskal negara. Senin, (9/3/2026). 

 

“Pengumpulan pajak di dua bulan pertama 2026 ini tumbuh 30 persen. Kita akan pastikan itu tetap stabil ke depan,” ujar Purbaya di Jakarta, Minggu (8/3).

 

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menjelaskan, defisit terjadi karena realisasi pendapatan negara masih lebih rendah dibandingkan total belanja pemerintah dalam dua bulan pertama tahun ini. Demikian dilansir dari Jawapos.com, Senin, (9/3/2026). 

 

 

Menurutnya, hingga 28 Februari 2026 pendapatan negara tercatat mencapai Rp358 triliun. Sementara itu, belanja negara tercatat lebih tinggi yakni sebesar Rp493,8 triliun.

 

Meski terjadi defisit, pemerintah menilai kinerja penerimaan negara tetap menunjukkan tren positif, terutama dari sektor perpajakan yang mengalami pertumbuhan signifikan.

 

 

Secara rinci, dari total pendapatan negara sebesar Rp358 triliun tersebut, penerimaan terbesar berasal dari sektor pajak yang mencapai Rp245,1 triliun. Selain itu, penerimaan dari kepabeanan dan cukai tercatat sebesar Rp44,9 triliun, sedangkan penerimaan negara bukan pajak (PNBP) mencapai Rp68 triliun.

 

 

Adapun total penerimaan perpajakan hingga akhir Februari 2026 mencapai Rp290 triliun atau sekitar 10,8 persen dari target APBN tahun ini yang sebesar Rp2.693,7 triliun.

 

Capaian tersebut menunjukkan peningkatan dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang tercatat sebesar Rp240,6 triliun.

 

“Kita pastikan semua faktor-faktor pendukung pertumbuhan ekonomi itu berjalan dengan baik,” tukasnya

 

 

Di sisi lain, belanja negara sebesar Rp493,8 triliun terdiri dari belanja pemerintah pusat sebesar Rp346,1 triliun serta transfer ke daerah yang mencapai Rp147,7 triliun.

 

 

Purbaya menegaskan pemerintah akan terus menjaga kualitas belanja negara agar tetap efektif dalam mendukung pertumbuhan ekonomi nasional.

 

Pemerintah juga memastikan berbagai instrumen kebijakan fiskal tetap diarahkan untuk menjaga stabilitas ekonomi sekaligus mendorong aktivitas ekonomi di berbagai sektor. (Frcn) 

 

 

#apbn, #defisitapbn, #keuangannegara, #pajak, #penerimaannegara, #belanjanegara, #purbayayudhisadewa, #ekonomiindonesia