Bahlil menyampaikan Indonesia membuka peluang bagi pemerintah maupun pelaku usaha Jepang untuk terlibat dalam pengelolaan mineral kritis yang dimiliki Indonesia. Menurutnya, sumber daya tersebut memiliki peran penting dalam pengembangan teknologi energi bersih.
Indonesia diketahui memiliki sekitar 43 persen cadangan nikel dunia. Selain itu, Indonesia juga menjadi salah satu produsen utama bauksit, timah, dan tembaga, serta memiliki potensi logam tanah jarang yang dibutuhkan dalam industri energi masa depan.
Kerja sama di sektor mineral kritis ini diarahkan untuk memperkuat rantai pasok global agar lebih aman dan andal. Melalui kolaborasi tersebut, kedua negara berharap pengembangan teknologi energi bersih dapat dipercepat.