Secara nasional, lebih dari 72 persen anak yang bekerja masih berstatus pelajar. Namun, sekitar 26 persen sudah tidak bersekolah dan 2 persen bahkan tidak pernah mengenyam pendidikan formal.
Laporan tersebut juga mengungkap bahwa anak laki-laki cenderung lebih banyak terlibat dalam pekerjaan berbayar dan memiliki risiko lebih tinggi untuk putus sekolah lebih awal.
Hanri menyoroti dampak serius yang dialami anak-anak yang harus membagi waktu antara sekolah dan bekerja.
“Kelelahan, keterbatasan waktu belajar, dan penurunan capaian akademik adalah dampak nyata. Dalam jangka panjang, mereka berisiko putus sekolah,” jelasnya.