NGANJUK, PustakaJC.co - Menjelang Idul Adha 1447 H, Gubernur Jawa Timur memastikan stok hewan kurban di wilayahnya dalam kondisi aman, sehat, dan bebas penyakit.
Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa meninjau sentra peternakan UD Sapi Baru di Desa Sukorejo, Kecamatan Loceret, Kabupaten Nganjuk, Sabtu, (2/5/2026).
Dalam kunjungan tersebut, Khofifah didampingi Wakil Bupati Nganjuk Trihandy Cahyo Saputro dan Kepala Dinas Peternakan Jawa Timur Indyah Aryani. Mereka mengecek langsung kondisi ternak milik Mursyid yang mencapai sekitar 200 ekor sapi, terdiri dari jenis PO, Limosin, dan Simental.
Khofifah menegaskan, kondisi ternak di lokasi tersebut terlihat sehat dan berkualitas, bahkan beberapa memiliki bobot lebih dari satu ton. Hal ini menjadi indikator kuat bahwa sektor peternakan Jawa Timur memiliki daya saing tinggi secara nasional.
“Alhamdulillah, kondisi sapi-sapi di sini sehat dan besar. Ini menjadi indikator bahwa kualitas ternak kita sangat baik,” ujar Khofifah.
Ia juga menyebut peternakan UD Sapi Baru telah menjadi pemasok hewan kurban tidak hanya untuk Jawa Timur, tetapi juga ke sejumlah daerah lain seperti Kalimantan dan Jawa Tengah.
Menurutnya, kekuatan sektor peternakan Jawa Timur turut berkontribusi besar terhadap stabilitas pasokan hewan kurban nasional, terutama menjelang momentum Idul Adha yang identik dengan lonjakan permintaan.
Berdasarkan data Pemprov Jatim, proyeksi kebutuhan hewan kurban tahun ini mencapai 427.060 ekor, terdiri dari sapi 70.550 ekor, kambing 297.900 ekor, domba 58.600 ekor, dan kerbau 10 ekor.
Namun, ketersediaan ternak jauh melampaui angka tersebut. Untuk sapi, tersedia 629.119 ekor atau surplus 558.569 ekor. Kambing mencapai 940.693 ekor atau surplus 642.793 ekor. Domba sebanyak 484.468 ekor atau surplus 452.868 ekor. Sementara kerbau tersedia 1.698 ekor atau surplus 1.688 ekor.
“Kondisi ini menunjukkan Jawa Timur surplus cukup signifikan di seluruh jenis ternak kurban dan siap menopang kebutuhan provinsi lain,” tegasnya.
Selain memastikan ketersediaan, Pemprov Jatim juga memperketat pengawasan kesehatan hewan ternak. Pemeriksaan dilakukan secara menyeluruh, baik sebelum penyembelihan (ante mortem) maupun setelah penyembelihan (post mortem).
Dinas Peternakan Jawa Timur telah menyiapkan tim pemeriksa yang terdiri dari 950 dokter hewan medik veteriner, 1.500 paramedik veteriner, 145 pengawas bibit ternak, 75 pengawas mutu pakan, serta 1.997 juru sembelih halal bersertifikat.
“Jelang Idul Adha, kami terus mengerahkan tim untuk memantau dan memastikan semua hewan kurban bebas dari penyakit, terutama PMK dan Lumpy Skin Disease,” ujar Khofifah.
Ia menambahkan, pengalaman penanganan wabah PMK dalam dua tahun terakhir menjadi dasar penguatan sistem pengawasan, termasuk kebijakan penutupan sementara pasar hewan jika ditemukan indikasi penyakit.
Dengan stok melimpah dan pengawasan ketat, Jawa Timur tidak hanya mampu memenuhi kebutuhan hewan kurban di dalam daerah, tetapi juga siap menjadi penopang pasokan nasional menjelang Idul Adha 1447 H. (ivan)