Harga Telur Jatim Terpuruk, Pemprov Andalkan Program MBG dan Bidik Pasar Ekspor Jepang

parlemen | 26 Mei 2026 20:54

Harga Telur Jatim Terpuruk, Pemprov Andalkan Program MBG dan Bidik Pasar Ekspor Jepang
Kepala Dinas Peternakan Provinsi Jawa Timur, Indyah Aryani. (dok radarsurabaya)

SURABAYA, PustakaJC.co – Harga telur ayam di tingkat peternak Jawa Timur mengalami penurunan signifikan akibat melimpahnya produksi yang tidak sebanding dengan daya serap pasar. Pemerintah Provinsi Jawa Timur kini mengandalkan program Makan Bergizi Gratis (MBG) serta membuka peluang ekspor ke Jepang guna membantu menstabilkan harga dan menjaga keberlangsungan usaha peternak. Selasa, (26/5/2026).

Kepala Dinas Peternakan Provinsi Jawa Timur, Indyah Aryani, mengatakan Jawa Timur menjadi daerah dengan populasi unggas terbesar di Indonesia, baik ayam broiler maupun ayam petelur, sehingga produksi telur di wilayah tersebut selalu mengalami surplus.

“Unggas di Jawa Timur memang terbesar populasinya, baik broiler maupun petelur. Jawa Timur selalu surplus produksi,” ujar Indyah. Demikian dikutip dari radarsurabaya.jawapos.com, Senin (25/5/2026).

Menurut Indyah, tingginya produksi telur dalam beberapa waktu terakhir memicu penumpukan stok di tingkat peternak. Kondisi itu menyebabkan harga jual telur turun hingga berada di bawah harga pokok produksi (HPP).

Di sejumlah sentra peternakan seperti Kabupaten Magetan, sebagian peternak bahkan memilih membagikan telur secara gratis karena stok tidak terserap pasar.

Sebelumnya, banyak peternak meningkatkan produksi untuk mengantisipasi kebutuhan hari raya dan program MBG. Namun, realisasi permintaan dinilai belum sesuai dengan harapan para peternak.

Untuk mengatasi persoalan tersebut, Pemprov Jawa Timur bersama Badan Pangan Nasional (Bapanas) dan Kementerian Pertanian mendorong peningkatan penyerapan telur melalui tambahan menu telur pada program MBG yang disalurkan melalui Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).

Selain memperluas penyerapan pasar, pemerintah juga menyiapkan subsidi jagung sebagai bahan baku pakan ternak guna menekan biaya produksi peternak.

Jagung subsidi tersebut nantinya akan disalurkan melalui koperasi peternak dengan harga sekitar Rp5.000 per kilogram.

Tak hanya fokus pada pasar domestik, Pemprov Jawa Timur juga mulai memperluas pasar ekspor produk peternakan ke sejumlah negara seperti Malaysia, Singapura, Timor Leste, hingga Jepang.

Jepang disebut telah menunjukkan minat terhadap produk telur dan frozen meat ayam asal Jawa Timur setelah melalui proses analisis risiko terhadap produk peternakan dari Indonesia. (frchn)