Ekonomi Jawa Timur Tumbuh 5,84 Persen Semester I 2026 Kemiskinan Turun 92 Ribu Jiwa

parlemen | 07 Agustus 2026 07:50

Ekonomi Jawa Timur Tumbuh 5,84 Persen Semester I 2026 Kemiskinan Turun 92 Ribu Jiwa
Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa menyampaikan keterangan mengenai capaian pertumbuhan ekonomi Jawa Timur Semester I 2026 yang mencapai 5,84 persen disertai penurunan angka kemiskinan dan pengangguran. (dok suarasurabaya)

SURABAYA, PustakaJC.co – Perekonomian Jawa Timur pada Semester I 2026 mencatat pertumbuhan sebesar 5,84 persen, melampaui rata-rata nasional yang mencapai 5,45 persen. Capaian tersebut juga menjadi yang tertinggi di Pulau Jawa berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS).

 

Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa mengatakan pertumbuhan ekonomi tersebut berjalan seiring dengan membaiknya sejumlah indikator kesejahteraan masyarakat, seperti penurunan angka kemiskinan dan pengangguran. Dilansir dari suarasurabaya.net, (7/8/2026).

 

“Di tengah ketidakpastian dan dinamika ekonomi global, Jawa Timur mampu mencatat pertumbuhan ekonomi di atas rata-rata nasional. Pada saat yang sama, jumlah penduduk miskin dan pengangguran juga mengalami penurunan berkat sinergi seluruh pihak,” ujar Khofifah, Kamis, (6/8/2026).

 

Menurutnya, pertumbuhan ekonomi Jawa Timur ditopang tiga sektor utama, yakni industri pengolahan dengan kontribusi 31,27 persen, perdagangan sebesar 18,49 persen, serta sektor pertanian sebesar 10,87 persen.

 

 

 

Dari sisi kesejahteraan, persentase penduduk miskin pada Maret 2026 turun menjadi 9,06 persen dibandingkan 9,30 persen pada September 2025. Secara jumlah, penduduk miskin berkurang sebanyak 92.060 jiwa, dari 3.804.290 jiwa menjadi 3.712.230 jiwa.

 

Khofifah menegaskan bahwa keberhasilan tersebut tidak hanya diukur dari berkurangnya jumlah masyarakat miskin, tetapi juga meningkatnya kualitas hidup mereka.

 

Selain itu, Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) Jawa Timur juga menurun menjadi 3,42 persen. Jumlah penduduk yang bekerja meningkat menjadi 24,46 juta orang atau bertambah sekitar 205.530 orang dibandingkan periode sebelumnya.

 

 

 

Meski demikian, Pemprov Jawa Timur masih menghadapi tantangan berupa tingginya angka pengangguran pada lulusan SMK dan perguruan tinggi. Untuk mengatasinya, pemerintah akan memperkuat keterkaitan antara pendidikan vokasi dengan kebutuhan dunia usaha dan dunia industri melalui peningkatan kompetensi, sertifikasi, serta program magang.

 

“Kami akan terus memperkuat sinergi, menjaga iklim yang kondusif, meningkatkan produktivitas, memperluas kesempatan kerja, serta memastikan pertumbuhan ekonomi dapat dirasakan secara adil dan merata oleh seluruh masyarakat,” kata Khofifah. (ivan)