Hadapi Perubahan Iklim
Khofifah mengatakan ketahanan pangan ke depan tidak cukup hanya diukur dari besarnya produksi pangan. Perubahan iklim menjadi tantangan serius yang harus diantisipasi melalui penerapan sistem pertanian yang lebih adaptif.
Jawa Timur menghadapi musim kemarau 2026 yang diprediksi lebih kering dengan curah hujan di bawah normal di sebagian besar wilayah.
Berdasarkan prediksi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), sekitar 75,5 persen wilayah Jawa Timur diperkirakan mengalami sifat hujan di bawah normal selama musim kemarau 2026. Puncak musim kemarau dominan terjadi pada Agustus 2026.
“Bahkan, di sejumlah wilayah Jawa Timur, durasi musim kemarau diprediksi dapat mencapai 22 hingga 24 dasarian. Kondisi ini mengingatkan kita bahwa tantangan ketahanan pangan ke depan bukan hanya soal seberapa banyak kita mampu memproduksi pangan, tetapi juga seberapa tangguh kita menghadapi perubahan iklim,” jelasnya.
Untuk menghadapi kondisi tersebut, Pemprov Jatim terus mendorong penerapan pertanian adaptif. Langkah yang dilakukan antara lain melalui pengelolaan air secara lebih efisien, penyesuaian kalender tanam, pemilihan varietas padi berumur pendek dan lebih tahan kekeringan, serta penyesuaian komoditas dari padi ke palawija di wilayah dengan risiko kekeringan lebih tinggi.
“Kita harus memastikan bahwa perubahan iklim tidak menjadi hambatan bagi produktivitas pangan kita, melainkan menjadi pemicu bagi kita untuk melahirkan pertanian yang lebih adaptif dan inovatif,” tegas Khofifah.