Salah satu inovasi yang mendapat perhatian adalah budidaya tanaman padi. Keterbatasan lahan tidak menjadi hambatan bagi para taruna untuk mengembangkan tanaman pangan tersebut.
Para siswa memanfaatkan bekas galon air minum sebagai wadah untuk menanam padi. Tanaman tersebut dapat tumbuh dengan baik setelah mendapatkan pendampingan dan perawatan.
“Padi yang biasanya identik dengan lahan persawahan ternyata dapat ditanam dalam wadah bekas galon dan tumbuh dengan baik,” kata Khofifah.
Menurutnya, pemanfaatan barang bekas tersebut sekaligus memberikan pembelajaran mengenai kreativitas dan kepedulian terhadap lingkungan. Para siswa dapat memahami bahwa barang yang sudah tidak digunakan masih dapat dimanfaatkan untuk kegiatan produktif.
Khofifah juga mengapresiasi keterlibatan guru dalam mendampingi pelaksanaan program. Guru memberikan arahan sesuai bidang keilmuan, sedangkan para taruna mempraktikkan secara langsung proses budidaya tanaman.
Ia menilai pengalaman tersebut dapat membentuk kedisiplinan, ketekunan dan rasa tanggung jawab peserta didik.
“Supaya para taruna tidak hanya belajar dari buku, tetapi mereka bisa menikmati langsung prosesnya. Dari sini mereka belajar bahwa setiap hasil membutuhkan proses, perawatan dan tanggung jawab,” tuturnya.