Khofifah menegaskan penerapan SIKAP tidak harus menggunakan pola yang sama di setiap sekolah. Satuan pendidikan dapat menyesuaikan kegiatan dengan kondisi lingkungan, ketersediaan lahan dan potensi masing-masing.
Menurutnya, sekolah tidak harus memiliki lahan luas untuk memulai kegiatan ketahanan pangan. Ruang yang tersedia dapat dimanfaatkan secara produktif sesuai dengan kondisi sekolah.
Program SIKAP merupakan inovasi Pemerintah Provinsi Jawa Timur melalui Dinas Pendidikan untuk mendorong satuan pendidikan mengembangkan ketahanan pangan. Bentuk kegiatannya dapat berupa pertanian, perikanan, peternakan maupun berbagai budidaya pangan lainnya.
Hingga kini, program tersebut telah diterapkan di 1.548 sekolah di Jawa Timur. Jumlah itu terdiri dari 596 SMA, 759 SMK dan 193 SLB. Sekolah-sekolah tersebut secara keseluruhan telah mengembangkan 41 jenis produk tanaman.
Khofifah menilai tingginya partisipasi sekolah menunjukkan bahwa sektor pendidikan dapat mengambil peran dalam membangun ketahanan pangan daerah.
Ia berharap kegiatan SIKAP tidak berhenti pada proses menanam dan memanen. Hasil budidaya juga dapat dikembangkan menjadi produk olahan yang memiliki nilai tambah.
“Ke depan kita berharap tidak berhenti pada menanam dan memanen. Kalau memungkinkan, hasilnya bisa diolah, dikembangkan dan memiliki nilai tambah. Dengan begitu anak-anak belajar tentang produktivitas sekaligus kemandirian,” pungkasnya. (ivan)