MALANG, PustakaJC.co – Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa memanen sejumlah sayuran hasil budidaya Program Sekolah Inovatif Ketahanan Pangan (SIKAP) di SMAN Taruna Nala Jawa Timur, Kota Malang, Kamis (20/8). Kegiatan tersebut dilakukan di sela peresmian sejumlah fasilitas baru dan hasil rehabilitasi sekolah.
Khofifah memanen sejumlah tanaman yang dikembangkan para taruna, mulai dari tomat, sawi, cabai hingga terong. Menurutnya, kegiatan tersebut menjadi contoh bahwa upaya membangun ketahanan pangan dapat dimulai dari lingkungan sekolah. Dilansir dari mili.id, Minggu, (23/8/2026).
“Ini adalah praktik nyata pembelajaran ketahanan pangan. Para taruna bisa melihat langsung bagaimana proses menanam, merawat dan kemudian memanen hasilnya,” ujar Khofifah.
Program SIKAP tidak hanya diarahkan untuk menghasilkan bahan pangan, tetapi juga menjadi bagian dari proses pembelajaran. Para taruna terlibat dalam berbagai tahapan, mulai menyiapkan media tanam, menanam, merawat, memantau pertumbuhan hingga memanen hasil tanaman.
Di SMAN Taruna Nala, setiap angkatan memiliki bidang garapan masing-masing sesuai dengan jenis tanaman yang dikembangkan. Siswa kelas X, XI dan XII bertanggung jawab terhadap perawatan serta perkembangan tanaman yang menjadi bagian dari tugas angkatannya.
Khofifah menilai pola tersebut sejalan dengan penerapan pembelajaran mendalam atau deep learning. Para taruna tidak hanya menerima teori di dalam kelas, tetapi juga belajar melalui praktik, pengamatan, pemecahan masalah, evaluasi dan refleksi.
“Melalui bidang garapan masing-masing, para taruna belajar bertanggung jawab. Mereka tidak hanya mengetahui teori tentang tanaman, tetapi juga mengamati proses pertumbuhannya, menghadapi persoalan yang muncul, mencari solusi, dan mengevaluasi hasilnya,” jelasnya.
Salah satu inovasi yang mendapat perhatian adalah budidaya tanaman padi. Keterbatasan lahan tidak menjadi hambatan bagi para taruna untuk mengembangkan tanaman pangan tersebut.
Para siswa memanfaatkan bekas galon air minum sebagai wadah untuk menanam padi. Tanaman tersebut dapat tumbuh dengan baik setelah mendapatkan pendampingan dan perawatan.
“Padi yang biasanya identik dengan lahan persawahan ternyata dapat ditanam dalam wadah bekas galon dan tumbuh dengan baik,” kata Khofifah.
Menurutnya, pemanfaatan barang bekas tersebut sekaligus memberikan pembelajaran mengenai kreativitas dan kepedulian terhadap lingkungan. Para siswa dapat memahami bahwa barang yang sudah tidak digunakan masih dapat dimanfaatkan untuk kegiatan produktif.
Khofifah juga mengapresiasi keterlibatan guru dalam mendampingi pelaksanaan program. Guru memberikan arahan sesuai bidang keilmuan, sedangkan para taruna mempraktikkan secara langsung proses budidaya tanaman.
Ia menilai pengalaman tersebut dapat membentuk kedisiplinan, ketekunan dan rasa tanggung jawab peserta didik.
“Supaya para taruna tidak hanya belajar dari buku, tetapi mereka bisa menikmati langsung prosesnya. Dari sini mereka belajar bahwa setiap hasil membutuhkan proses, perawatan dan tanggung jawab,” tuturnya.
Khofifah menegaskan penerapan SIKAP tidak harus menggunakan pola yang sama di setiap sekolah. Satuan pendidikan dapat menyesuaikan kegiatan dengan kondisi lingkungan, ketersediaan lahan dan potensi masing-masing.
Menurutnya, sekolah tidak harus memiliki lahan luas untuk memulai kegiatan ketahanan pangan. Ruang yang tersedia dapat dimanfaatkan secara produktif sesuai dengan kondisi sekolah.
Program SIKAP merupakan inovasi Pemerintah Provinsi Jawa Timur melalui Dinas Pendidikan untuk mendorong satuan pendidikan mengembangkan ketahanan pangan. Bentuk kegiatannya dapat berupa pertanian, perikanan, peternakan maupun berbagai budidaya pangan lainnya.
Hingga kini, program tersebut telah diterapkan di 1.548 sekolah di Jawa Timur. Jumlah itu terdiri dari 596 SMA, 759 SMK dan 193 SLB. Sekolah-sekolah tersebut secara keseluruhan telah mengembangkan 41 jenis produk tanaman.
Khofifah menilai tingginya partisipasi sekolah menunjukkan bahwa sektor pendidikan dapat mengambil peran dalam membangun ketahanan pangan daerah.
Ia berharap kegiatan SIKAP tidak berhenti pada proses menanam dan memanen. Hasil budidaya juga dapat dikembangkan menjadi produk olahan yang memiliki nilai tambah.
“Ke depan kita berharap tidak berhenti pada menanam dan memanen. Kalau memungkinkan, hasilnya bisa diolah, dikembangkan dan memiliki nilai tambah. Dengan begitu anak-anak belajar tentang produktivitas sekaligus kemandirian,” pungkasnya. (ivan)