FK Unair dan Dinkes Surabaya Gelar Pelatihan A-PRESERVE, Tekan Salah Diagnosis Robekan Jalan Lahir

pendidikan | 19 Oktober 2025 06:00

FK Unair dan Dinkes Surabaya Gelar Pelatihan A-PRESERVE, Tekan Salah Diagnosis Robekan Jalan Lahir
Dokter dan bidan Puskesmas Surabaya belajar teknik penjahitan perineum terkini dalam workshop A-PRESERVE yang digelar FK Unair bersama Dinkes Surabaya. (dok jawapos)

SURABAYA, PustakaJC.co – Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga (FK Unair) bersama Dinas Kesehatan Kota Surabaya menggelar pelatihan Airlangga–Perineal Repair Workshop for Health Service(A-PRESERVE) guna menekan kasus salah diagnosis robekan jalan lahir pada ibu melahirkan.

 

Dosen FK Unair dr. Riska Wahyuningtyas, SpOG, menjelaskan, sekitar 80 persen kasus robekan berat salah diagnosis di fasilitas kesehatan pertama. Dilansir dari jawapos.com, Minggu, (19/10/2025).

 

“Sering terjadi under diagnosis. Robekan yang melibatkan otot penahan BAB dijahit seperti robekan biasa. Akibatnya pasien tidak bisa menahan BAB,” ujarnya, Sabtu, (18/10/2025).

 

 

Padahal, robekan jalan lahir terjadi pada 40–60 persen persalinan normal, dengan risiko lebih tinggi jika ukuran bayi besar, jalan lahir tidak elastis, atau tindakan episiotomi tidak tepat waktu.

 

Menurut dr. Gatut Hardianto, SpOG, Subsp Urogin Rek, sebagian besar rujukan ke RSUD Dr. Soetomo justru berasal dari Puskesmas. 

 

“Masalah utama ada di diagnosis yang tidak akurat. Luka berat dianggap ringan, lalu dijahit biasa. Akhirnya penyembuhan tidak optimal dan tetap jadi komplikasi,” tegasnya.

 

 

 

Dalam pelatihan ini, dokter dan bidan Puskesmas mendapat pembekalan teori dan praktik langsung, mulai dari identifikasi derajat robekan, pemilihan benang, teknik jahitan terkini, hingga perawatan luka pasca persalinan.

 

Gatut menambahkan, rendahnya kesadaran ibu pasca melahirkan juga memperparah kondisi.

 

“Banyak yang menahan nyeri bertahun-tahun dengan alasan wajar setelah melahirkan. Padahal itu tanda komplikasi,” ujarnya.

 

 

 

Melalui A-PRESERVE, FK Unair dan Dinkes Surabaya berharap diagnosis lebih akurat di tingkat primer sehingga ibu tidak perlu mengalami komplikasi jangka panjang. 

 

“Kalau dari awal diagnosisnya tepat, tata laksananya juga akan tepat. Itu tujuan utama kami,” pungkas dr. Riska. (ivan)