SURABAYA, PustakaJC.co – Telkom University Surabaya menggelar bedah buku “Tiga Sahabat Punya Cerita” karya Okin Lazuardi di Aula Gedung Utama kampus, Selasa (21/10/2025) pukul 09.00 WIB. Kegiatan ini menjadi forum akademik untuk memperkuat budaya literasi sivitas kampus melalui kajian isi dan gagasan penulis.
Mengusung tema “Menelaah Perjalanan Jiwa Sebuah Fiksi”, Okin membuka materinya dengan pemahaman dasar tentang literasi—kemampuan membaca, menulis, dan mengenali ide secara visual—sebagai fondasi memahami karya dan realitas. Dilansir dari jatimpos.co, Rabu, (22/10/2025).
Dalam paparannya, Okin mengulas literasi teater yang mencakup drama absurd dan realis, hingga bentuk-bentuk komedi dan musikal yang memadukan dialog, humor, lagu, dan tarian untuk menggambarkan emosi dan cerita.
Ia juga menyoroti pentingnya literasi film, yakni kemampuan menafsirkan bahasa visual, struktur dramatik, serta konteks budaya dan genre produksi. Sementara di literasi sastra, ia menekankan peran imajinasi dalam puisi, cerpen, novel, dan esai, serta peluang kolaborasinya dengan medium film.
“Literasi sastra adalah kemampuan membaca, memahami, menafsirkan, dan menganalisis karya sastra, serta mengembangkan keterampilan berbahasa dan estetika,” jelas Okin.
Masuk ke pembahasan novel, Okin menjelaskan bahwa bentuk prosa panjang ini memiliki tema dan alur kompleks dengan narasi yang diperkuat oleh deskripsi dan dialog.
“Yang paling ditunggu dari novel adalah perubahan nasib tokohnya—apakah berakhir lebih baik atau sebaliknya. Pembaca berharap akhir yang memuaskan setelah membaca beratus halaman,” ujarnya.
Novel “3 Sahabat Punya Cerita” sendiri mengangkat tema persahabatan, pengkhianatan, cinta, dan masa depan. Tiga tokoh utamanya—Wildan, Wuhan, dan Wesley—berjumpa di Asrama Pusdik Jawa Timur, yang menjadi titik awal konflik hingga puncaknya pada insiden perusakan pesta pernikahan.
“Novel ini menggambarkan suka duka dalam persahabatan, juga sisi kelam dari pengkhianatan,” tutur Okin.
Tak sekadar membahas karya, acara ini juga menegaskan komitmen kampus dalam pengembangan budaya literasi.
“Kegiatan ini bagian dari literasi—dari budaya baca menuju budaya tulis. Harapannya mahasiswa terdorong menulis jurnal atau paper, bukan hanya mengandalkan literatur daring,” tambah Okin.
Kepala Bagian Pelayanan Akademik Telkom University Surabaya, Hendy Briantoro, S.ST., M.T., Ph.D., menegaskan arah kebijakan literasi kampus.
“Ini langkah awal meningkatkan literasi baca tulis mahasiswa. Ke depan, kami ingin mahasiswa tidak hanya membaca, tapi juga menulis dan menerbitkan karya,” katanya.