Kemensos & Perpusnas Bangun Perpustakaan Modern di Sekolah Rakyat: Tak Sekadar Rak Buku, Tapi Pusat Literasi Sosial!

pendidikan | 05 November 2025 08:03

Kemensos & Perpusnas Bangun Perpustakaan Modern di Sekolah Rakyat: Tak Sekadar Rak Buku, Tapi Pusat Literasi Sosial!
Dok PustakaJC

SURABAYA, PustakaJC.co – Sekolah Rakyat kini bersiap naik kelas. Tak hanya membangun ruang belajar yang layak, Kementerian Sosial (Kemensos) menggandeng Perpustakaan Nasional (Perpusnas) untuk menghadirkan perpustakaan modern dan berstandar nasional di lingkungan Sekolah Rakyat.

 

Menteri Sosial Saifullah Yusuf (Gus Ipul) menegaskan, kolaborasi ini akan menjadikan perpustakaan bukan sekadar tempat membaca, tapi juga pusat kegiatan literasi dan pemberdayaan masyarakat. “Saya membayangkan Sekolah Rakyat nanti punya perpustakaan yang istimewa dan modern, yang bisa jadi tempat studi banding sekolah lain,” ujar Gus Ipul, dilansir dari laman resmi kemensos, Rabu (5/11/2025).

 

Audiensi antara Kemensos dan Perpusnas itu dihadiri langsung oleh Kepala Perpusnas RI, Prof. Aminuddin Aziz. Dalam pertemuan tersebut, Perpusnas dipercaya untuk mendesain dan mengelola perpustakaan Sekolah Rakyat agar sejak awal memenuhi standar nasional dan fungsi sosialnya.

 

“Saya serahkan sepenuhnya kepada Perpusnas, karena ini program strategis nasional. Harus dipercayakan pada ahlinya,” kata Gus Ipul.

 

Sementara itu, Prof. Aminuddin menyebut kerja sama ini menjadi bagian dari gerakan literasi inklusif nasional, sekaligus memperkuat Transformasi Perpustakaan Berbasis Inklusi Sosial (TPBIS)—program unggulan Perpusnas yang sudah diakui secara internasional.

 

“Bantuan kami bukan hanya buku dan rak, tapi juga semangat membaca dan kebersamaan. Literasi harus menjadi gerakan sosial yang menumbuhkan rasa ingin tahu,” tegas Prof. Aminuddin.

 

Sebagai bagian dari kerja sama ini, Perpusnas menyalurkan bantuan ke 150 Sekolah Rakyat yang meliputi:

 

1.500 judul buku untuk jenjang SD dan SMP,

1.000 judul buku untuk SMA,

250 judul buku digital,

serta 142 kios baca digital yang terhubung dengan koleksi nasional.

 

Tak berhenti di sana, Perpusnas juga melakukan survei kondisi literasi di 150 Sekolah Rakyat. Hasilnya, masih banyak sekolah yang belum memiliki ruang, tenaga, atau sarana perpustakaan memadai. Data ini menjadi dasar untuk membangun model bantuan yang berkelanjutan.

 

Pendekatan literasi ini nantinya akan terintegrasi dengan Perpustakaan Desa dan Taman Bacaan Masyarakat (TBM) agar kegiatan membaca tidak berhenti di ruang kelas. Sekolah Rakyat diharapkan menjadi episentrum gerakan literasi sosial di tiap wilayah.

 

“Yang penting bukan hanya bangunan, tapi kegiatan di dalamnya. Literasi harus menggerakkan partisipasi masyarakat,” pungkas Prof. Aminuddin. (int)