Festika Jatim 2025, Khofifah Tegaskan AI Tak Gantikan Peran Esensial Guru

pendidikan | 16 Desember 2025 18:32

Festika Jatim 2025, Khofifah Tegaskan AI Tak Gantikan Peran Esensial Guru
Gubernur Khofifah didampingi Kadindik Jatim, Aries Agung Paewai bersama peserta Festika Jatim 2025. (dok kominfo)

MALANG, PustakaJC.co – Pemerintah Provinsi Jawa Timur melalui Dinas Pendidikan (Dindik) menggelar Festival Teknologi Informasi dan Komunikasi Pendidikan (Festika) Jawa Timur 2025 di Hotel Savana Malang, Senin, (15/12/2025). Kegiatan ini dibuka langsung oleh Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa.

 

Dalam sambutannya, Gubernur Khofifah menegaskan bahwa pemanfaatan Artificial Intelligence (AI) di dunia pendidikan tidak dimaksudkan untuk menggantikan peran guru. Menurutnya, teknologi hanya berfungsi sebagai alat bantu pembelajaran, sementara nilai, karakter, dan sensitivitas kemanusiaan tetap menjadi domain utama pendidik. Dilansir dari kominfojatimprov.go.id, Selasa, (16/12/2025).

 

“Di dalam seorang guru terdapat transfer of attitude yang tidak bisa dilakukan oleh AI. Sensitivitas itu ada pada guru, bukan pada teknologi,” tegas Khofifah.

 

 

 

Festika Jatim 2025 mengusung tema Digitalisasi Pembelajaran Bermakna Wujudkan Pendidikan Berkualitas dan Unggul Menuju Indonesia Emas 2045. Tema ini menekankan pentingnya pemanfaatan teknologi untuk memperkuat pembelajaran sekaligus membuka konektivitas global secara cepat dan real time.

 

Khofifah menambahkan, guru tetap memiliki peran sentral dalam mentransformasikan penggunaan AI berbasis nilai. Guru, kata dia, harus tetap menjadi figur yang digugu dan ditiru oleh peserta didik.

 

“Teknologi adalah alat penguat. Modernisasi, efektivitas, dan efisiensi bisa dilakukan, tetapi jangan menempatkan teknologi sebagai sesuatu yang bebas nilai,” ujarnya.

 

 

 

Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan Jatim Aries Agung Paewai menyampaikan bahwa kebijakan pemanfaatan AI di sektor pendidikan telah sejalan dengan arahan pemerintah pusat, yakni menjadikan AI sebagai pendukung proses pembelajaran, bukan pengganti tenaga pendidik.

 

Menurut Aries, pengenalan AI kepada guru dan peserta didik penting agar insan pendidikan memahami fungsi, manfaat, sekaligus potensi risiko teknologi tersebut.

 

“Kita ingin mereka tidak meraba-raba. Apa itu AI, apa positif dan negatifnya, sehingga pendidikan tetap berproses seperti sebelumnya, namun dengan dukungan teknologi,” jelas Aries.

 

 

Aries menegaskan, AI hanya diharapkan menjadi alat bantu dalam menulis, berkarya, dan belajar, tanpa mengambil alih kreativitas serta proses berpikir manusia.

 

“Jangan sampai kita kalah dengan teknologi. Kita harus mampu bersanding dengannya untuk meningkatkan mutu dan kualitas pendidikan,” tegasnya.

 

Festika Jatim 2025 menjadi wadah bagi guru-guru yang telah memanfaatkan teknologi dalam pembelajaran, sekaligus mendorong lahirnya pendidik baru yang adaptif terhadap perkembangan digital.

 

Rangkaian kegiatan diawali dengan webinar edukasi yang diikuti lebih dari 32 ribu peserta dari kalangan pengawas, kepala sekolah, guru, dan tenaga kependidikan se-Jawa Timur. Selain itu, terdapat ajang Guru Sobat Teknologi (GST) yang diikuti 2.100 guru dari 24 cabang dinas pendidikan.

 

Festika Jatim 2025 juga menghadirkan lomba Anak Remaja Kreatif AI (AREK_AI) yang diikuti 1.120 tim siswa SMA/SMK sederajat, dengan kompetisi pembuatan aplikasi dan situs web sebagai wujud peran pelajar sebagai pencipta teknologi.

 

Dalam kesempatan tersebut, Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur turut meluncurkan buku “Bukan Guru Biasa” yang memotret perjalanan inspiratif 22 guru Jawa Timur dalam menjawab tantangan pembelajaran di era kecerdasan buatan. (ivan)