Ia menjelaskan, pendekatan program ini dirancang komprehensif dan berkelanjutan. Dapur PMBA tidak hanya berfungsi sebagai fasilitas penyedia makanan, tetapi juga menjadi pintu masuk penguatan kapasitas masyarakat.
Tim Unusa memberikan edukasi kesehatan dan gizi, pendampingan praktik pemberian makanan bayi dan anak yang benar, serta mendorong peran aktif masyarakat lokal agar mampu mengelola program secara mandiri.
Menurut Syafiuddin, kolaborasi dengan pemerintah daerah dan masyarakat menjadi kunci keberhasilan pelaksanaan program. Dengan dukungan berbagai pemangku kepentingan, Dapur PMBA diharapkan tidak hanya aktif saat terjadi bencana, tetapi juga berfungsi dalam kondisi normal sebagai pusat layanan gizi berbasis komunitas.
“Model Dapur PMBA di Bireuen kami harapkan dapat menjadi contoh praktik baik yang bisa direplikasi di daerah lain, terutama wilayah rawan bencana. Sinergi perguruan tinggi, pemerintah daerah, dan masyarakat penting agar perlindungan kelompok rentan berjalan lebih sistematis, berkelanjutan, dan berdampak luas,” pungkasnya. (ivan)