Unusa Perkuat Layanan Gizi Pascabencana Lewat Dapur PMBA di Aceh

pendidikan | 29 Desember 2025 18:42

Unusa Perkuat Layanan Gizi Pascabencana Lewat Dapur PMBA di Aceh
Tim Unusa melakukan edukasi Kesehatan, gizi, dan pendampingan praktik pemberian makanan bayi dan anak yang benar, di wilayah Pantee Lhong, Kabupaten Bireuen, Provinsi Aceh. (dok bhirawa)

SURABAYA, PustakaJC.co - Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (Unusa) memperkuat layanan gizi dan kesehatan masyarakat rentan melalui pembangunan Dapur PMBA (Pemberian Makanan Bayi dan Anak) di wilayah Pantee Lhong, Kabupaten Bireuen, Provinsi Aceh. Program ini menjadi bagian dari pengabdian kepada masyarakat yang dilaksanakan bersama Dinas Kesehatan Kabupaten Bireuen, Jumat, (26/12/2025).

 

Kegiatan tersebut difokuskan pada penguatan pemenuhan gizi, peningkatan layanan kesehatan dasar, serta penerapan praktik sanitasi yang layak, khususnya bagi kelompok rentan dalam situasi darurat maupun pascabencana. Dilansir dari bhirawaonline.co.id, Senin, (29/12/2025).

 

Ketua Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Unusa, Achmad Syafiuddin, S.Si., M.Phil., Ph.D., menegaskan bahwa pembangunan Dapur PMBA berangkat dari kepedulian terhadap perlindungan hak dasar kelompok rentan.

 

“Dalam kondisi bencana maupun pascabencana, kelompok rentan sering menjadi pihak paling terdampak sekaligus paling terabaikan. Karena itu, Dapur PMBA dibangun untuk memastikan hak mereka atas gizi dan kesehatan tetap terpenuhi secara layak dan bermartabat,” ujar  Achmad Syafiuddin.

 

 

 

Ia menjelaskan, pendekatan program ini dirancang komprehensif dan berkelanjutan. Dapur PMBA tidak hanya berfungsi sebagai fasilitas penyedia makanan, tetapi juga menjadi pintu masuk penguatan kapasitas masyarakat.

 

Tim Unusa memberikan edukasi kesehatan dan gizi, pendampingan praktik pemberian makanan bayi dan anak yang benar, serta mendorong peran aktif masyarakat lokal agar mampu mengelola program secara mandiri.

 

Menurut Syafiuddin, kolaborasi dengan pemerintah daerah dan masyarakat menjadi kunci keberhasilan pelaksanaan program. Dengan dukungan berbagai pemangku kepentingan, Dapur PMBA diharapkan tidak hanya aktif saat terjadi bencana, tetapi juga berfungsi dalam kondisi normal sebagai pusat layanan gizi berbasis komunitas.

 

“Model Dapur PMBA di Bireuen kami harapkan dapat menjadi contoh praktik baik yang bisa direplikasi di daerah lain, terutama wilayah rawan bencana. Sinergi perguruan tinggi, pemerintah daerah, dan masyarakat penting agar perlindungan kelompok rentan berjalan lebih sistematis, berkelanjutan, dan berdampak luas,” pungkasnya. (ivan)