RS Universitas Brawijaya Resmikan Infectious Disease Center, Perkuat Kesiapsiagaan Wabah di Jatim

pendidikan | 11 Januari 2026 08:50

RS Universitas Brawijaya Resmikan Infectious Disease Center, Perkuat Kesiapsiagaan Wabah di Jatim
Peresmian Infectious Disease Center Rumah Sakit Universitas Brawijaya Malang. (dok suarasurabaya)

MALANG, PustakaJC.co – Rumah Sakit Universitas Brawijaya (RSUB) Malang meresmikan Infectious Disease Center (IDC) sebagai upaya memperkuat layanan penyakit infeksi sekaligus meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi potensi wabah di Jawa Timur.

 

Peresmian dilakukan pada Sabtu, (10/1/2026), berangkat dari refleksi atas pandemi Covid-19 yang menjadi pengingat penting bahwa sistem kesehatan harus selalu siap menghadapi ancaman penyakit menular, meski krisis telah berlalu. Dilansir dari suarasurabaya.net Minggu, (11/1/2026).

 

Direktur RSUB, Viera Wardhani, mengatakan Infectious Disease Center merupakan fasilitas khusus yang dirancang untuk memperkuat pelayanan penyakit infeksi serta mendukung pengembangan penelitian di bidang kesehatan.

 

“Infectious Disease Center ini merupakan bagian dari pengembangan RSUB yang didukung Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, dengan pendanaan hibah dari Uni Eropa,” ujar Viera.

 

 

Menurutnya, IDC tidak hanya berfungsi sebagai fasilitas pendukung rumah sakit, tetapi juga diharapkan menjadi pusat pengembangan riset terkait penyakit infeksi. Fokus utama layanan diarahkan pada penanganan penyakit menular melalui udara (airborne disease), tanpa mengesampingkan jenis penyakit infeksi lainnya.

 

“Untuk IGD kami siapkan seperti rumah sakit pada umumnya. Namun di Infectious Disease Center ini, pelayanan lebih difokuskan pada penyakit menular, termasuk antisipasi terhadap potensi munculnya penyakit-penyakit infeksi baru,” jelasnya.

 

Viera menambahkan, pusat layanan penyakit infeksi sebelumnya telah ada di tingkat nasional, seperti RSPI Prof. Dr. Sulianti Saroso, serta di tingkat provinsi melalui RSUD Dr. Saiful Anwar. Namun, RSUB berupaya menghadirkan layanan dengan level pengelolaan penyakit infeksi yang lebih komprehensif.

 

“Yang kami dorong bukan hanya satu fasilitas rujukan, tetapi pengelolaan layanan infeksi di level berikutnya, yang terintegrasi dengan pelayanan, riset, dan kesiapsiagaan wabah,” tambahnya.

 

 

 

Ke depan, Infectious Disease Center RSUB diharapkan dapat menjadi bagian dari pusat rujukan pelayanan penyakit infeksi, tidak hanya untuk wilayah Malang Raya, tetapi juga Jawa Timur.

 

“Yang paling penting, kami tidak hanya melayani pasien, tetapi juga melakukan kajian dan riset. Hasilnya diharapkan mampu mendukung deteksi dini serta prediksi terhadap potensi munculnya penyakit infeksi di masyarakat,” pungkas Viera. (ivan)