Kebijakan ini diterapkan tidak hanya kepada siswa, tetapi juga guru sebagai bentuk keteladanan. Terkait respons orang tua, Eri menyebut mayoritas wali murid menyambut positif kebijakan tersebut. Pemkot Surabaya juga rutin melakukan sosialisasi melalui pertemuan kelas.
Meski demikian, Eri mengakui masih ada tantangan, terutama rendahnya literasi digital sebagian orang tua. Ia menekankan pentingnya pengawasan penggunaan gawai di rumah.
“HP tidak bisa menggantikan peran orang tua. Anak tidak cukup dibatasi di sekolah, tetapi juga harus didampingi di rumah,” tegasnya.
Melalui kebijakan ini, Pemkot Surabaya berharap dapat mendukung terwujudnya Kota Ramah Anak serta mencetak generasi muda yang berkarakter, peduli sosial, dan bijak memanfaatkan teknologi. (ivan)