Batasi Gawai di Sekolah, Pemkot Surabaya Klaim Interaksi dan Fokus Belajar Siswa Meningkat

pendidikan | 31 Januari 2026 05:48

Batasi Gawai di Sekolah, Pemkot Surabaya Klaim Interaksi dan Fokus Belajar Siswa Meningkat
Sejumlah pelajar menandatangani papan deklarasi komitmen penggunaan gawai secara sehat dan bertanggung jawab di lingkungan sekolah. (dok jatimpos)

 

 

SURABAYA, PustakaJC.co - Pemerintah Kota Surabaya menerapkan kebijakan pembatasan penggunaan gawai di lingkungan sekolah sebagai upaya membentuk karakter sekaligus meningkatkan kualitas pembelajaran siswa. Kebijakan yang telah berjalan sekitar dua bulan itu dinilai membawa dampak positif terhadap interaksi sosial dan suasana belajar.

 

Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi mengatakan, pembatasan gawai bukan sekadar aturan teknis, melainkan langkah preventif untuk melindungi anak dari paparan konten digital yang tidak sesuai usia. Kebijakan tersebut dijalankan melalui kolaborasi antara siswa, guru, dan orang tua. Dilansir dari jatimpos.co, Sabtu, (31/1/2026).

 

“Alhamdulillah, dengan pembatasan gawai ini proses pembelajaran menjadi lebih interaktif antara guru dan murid. Tujuannya membentuk karakter dan kedisiplinan anak agar lebih baik,” ujar Eri, Kamis, (29/1/2026).

 

 

 

Menurut Eri, salah satu dampak paling terlihat adalah meningkatnya interaksi antarsiswa. Anak-anak yang sebelumnya lebih banyak terpaku pada gawai kini mulai aktif berkomunikasi dan berbaur dengan teman sebaya.

 

“Kasus bullying berkurang. Anak-anak yang dulu menyendiri karena sibuk dengan HP, sekarang mulai berinteraksi. Ini yang kami harapkan,” tuturnya.

 

Ia menegaskan bahwa pendidikan tidak hanya berorientasi pada capaian akademik, tetapi juga pembentukan karakter, kedisiplinan, dan jiwa sosial. Sekolah dinilai memiliki peran strategis dalam menanamkan nilai-nilai tersebut sejak dini.

 

Selain meningkatkan interaksi sosial, pembatasan gawai juga menciptakan rasa aman dan meningkatkan fokus belajar siswa karena tidak lagi terdistraksi media sosial maupun konten digital yang tidak relevan dengan pembelajaran.

 

 

Kebijakan ini diterapkan tidak hanya kepada siswa, tetapi juga guru sebagai bentuk keteladanan. Terkait respons orang tua, Eri menyebut mayoritas wali murid menyambut positif kebijakan tersebut. Pemkot Surabaya juga rutin melakukan sosialisasi melalui pertemuan kelas.

 

Meski demikian, Eri mengakui masih ada tantangan, terutama rendahnya literasi digital sebagian orang tua. Ia menekankan pentingnya pengawasan penggunaan gawai di rumah.

 

“HP tidak bisa menggantikan peran orang tua. Anak tidak cukup dibatasi di sekolah, tetapi juga harus didampingi di rumah,” tegasnya.

 

 

 

 

Melalui kebijakan ini, Pemkot Surabaya berharap dapat mendukung terwujudnya Kota Ramah Anak serta mencetak generasi muda yang berkarakter, peduli sosial, dan bijak memanfaatkan teknologi. (ivan)