Menurut Eri, salah satu dampak paling terlihat adalah meningkatnya interaksi antarsiswa. Anak-anak yang sebelumnya lebih banyak terpaku pada gawai kini mulai aktif berkomunikasi dan berbaur dengan teman sebaya.
“Kasus bullying berkurang. Anak-anak yang dulu menyendiri karena sibuk dengan HP, sekarang mulai berinteraksi. Ini yang kami harapkan,” tuturnya.
Ia menegaskan bahwa pendidikan tidak hanya berorientasi pada capaian akademik, tetapi juga pembentukan karakter, kedisiplinan, dan jiwa sosial. Sekolah dinilai memiliki peran strategis dalam menanamkan nilai-nilai tersebut sejak dini.
Selain meningkatkan interaksi sosial, pembatasan gawai juga menciptakan rasa aman dan meningkatkan fokus belajar siswa karena tidak lagi terdistraksi media sosial maupun konten digital yang tidak relevan dengan pembelajaran.