SURABAYA, PustakaJC.co – Persaingan masuk perguruan tinggi negeri melalui Seleksi Nasional Berdasarkan Tes (SNBT) kian kompetitif pada 2026. Kondisi ini mendorong siswa dan orang tua untuk tidak hanya mengandalkan kemampuan akademik, tetapi juga menyusun strategi matang dalam memilih program studi. Minggu, (12/4/2026).
“Sekarang lebih mempertimbangkan peluang, tidak hanya ikut jurusan yang sedang ramai peminat,” ujarnya. Demikian dikutip dari minggu, (12/4/2026).
Salah satu peserta, Adrian Kenzo, siswa SMKN 8 Surabaya, mengaku telah menyiapkan diri menghadapi SNBT sejak awal. Ia memilih tetap fokus belajar mandiri dan memperbanyak latihan soal setelah tidak lolos melalui jalur prestasi.
Adrian kini mempertimbangkan pilihan yang lebih realistis, yakni Antropologi di Universitas Airlangga serta Kriminologi di Universitas Brawijaya. Menurutnya, pemilihan jurusan tidak lagi hanya didasarkan pada minat, tetapi juga peluang diterima.
Dukungan juga datang dari orang tua. Desi Anggraini menegaskan bahwa kegagalan di jalur sebelumnya bukanlah akhir, melainkan bagian dari proses menuju keberhasilan. Ia memilih memberi kebebasan kepada anaknya dalam menentukan pilihan, selama tetap serius menjalaninya.
Pandangan serupa disampaikan orang tua siswa lainnya, Siti Nurhayati. Ia menilai tingkat persaingan SNBT saat ini semakin tinggi, khususnya pada jurusan favorit. Karena itu, siswa perlu memiliki strategi alternatif dengan mempertimbangkan program studi yang tingkat keketatannya lebih rendah.
Menurutnya, peran orang tua sebatas mendampingi dan memberikan semangat, bukan memaksakan pilihan. Sementara itu, siswa juga dituntut realistis dalam melihat peluang berdasarkan kemampuan dan hasil ujian.
Dengan persaingan yang semakin ketat, kombinasi antara kesiapan akademik dan strategi pemilihan program studi menjadi kunci utama dalam menembus perguruan tinggi negeri. (frcn)