Khofifah Sebut Serapan Lulusan SMK Jatim Meningkat Berkat Kolaborasi Industri

pendidikan | 12 Mei 2026 07:42

Khofifah Sebut Serapan Lulusan SMK Jatim Meningkat Berkat Kolaborasi Industri
Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa didampingi Kepala Dinas Pendidikan Jawa Timur Aries Agung Paewai saat menyampaikan capaian meningkatnya keterserapan lulusan SMK Jatim melalui penguatan kolaborasi dunia pendidikan dan industri di Surabaya. (dok surabayapagi)

SURABAYA, PustakaJC.co — Tingkat keterserapan lulusan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) di Jawa Timur menunjukkan tren positif. Melalui program BMW (Bekerja, Melanjutkan, dan Wirausaha), sebanyak 91,46 persen lulusan SMK Jatim berhasil terserap di dunia kerja, wirausaha, maupun pendidikan lanjutan.

 

Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa menyebut capaian tersebut menjadi bukti penguatan kolaborasi antara sekolah dengan dunia usaha dan dunia industri berjalan efektif. Dilansir dari surabayapagi.com, Selasa, (12/5/2026).

 

“Capaian ini menunjukkan keterserapan lulusan SMK terus meningkat. Ini juga menandakan penguatan link and match antara sekolah dengan dunia usaha dan dunia industri berjalan efektif,” ujar Khofifah di Surabaya, Senin, (11/5/2026).

 

 

 

Berdasarkan data Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen), dari total 221.174 lulusan SMK di Jawa Timur, sebanyak 195.429 lulusan telah terserap melalui program BMW.

 

Rinciannya, 55,83 persen lulusan telah bekerja, 20,79 persen memilih berwirausaha, dan 14,84 persen melanjutkan pendidikan ke jenjang lebih tinggi. Sementara 7,05 persen lainnya mengikuti pelatihan maupun kursus, dengan angka pengangguran tercatat hanya 1,49 persen.

 

Tak hanya itu, tingkat keselarasan pekerjaan dengan bidang keahlian mencapai 69,43 persen. Rata-rata masa tunggu kerja lulusan juga relatif singkat, yakni sekitar 3,38 bulan setelah kelulusan.

 

Khofifah menegaskan pendidikan vokasi harus mampu mengikuti perkembangan industri yang bergerak cepat di era disrupsi teknologi dan industri 4.0.

 

“Kebutuhan kompetensi industri berkembang sangat cepat. Pendidikan vokasi harus adaptif dan responsif terhadap perubahan tersebut,” katanya.

 

 

Untuk memperkuat kesiapan lulusan, Pemprov Jatim terus mendorong penguatan Teaching Factory (TeFa) di seluruh SMK negeri maupun swasta. Saat ini terdapat 298 SMK negeri dan 1.860 SMK swasta yang diwajibkan memiliki fasilitas TeFa di setiap jurusan.

 

Menurut Khofifah, keberadaan Teaching Factory penting untuk membentuk budaya kerja industri sejak di bangku sekolah.

 

“Teaching Factory penting untuk membentuk budaya kerja industri di sekolah, sehingga siswa terbiasa dengan standar dan ritme kerja dunia industri,” jelasnya.

 

 

Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan Jawa Timur, Aries Agung Paewai mengatakan pihaknya terus memperkuat program penekan angka pengangguran lulusan SMK melalui sertifikasi kompetensi, Bursa Kerja Khusus (BKK), hingga kerja sama industri.

 

Selain itu, program magang luar negeri juga terus didorong. Sebanyak 3.186 siswa telah diusulkan mengikuti program tersebut, sementara 1.734 lulusan siap diberangkatkan sebagai pekerja migran profesional.

 

Secara sektoral, lulusan yang bekerja paling banyak berasal dari bidang energi dan pertambangan, teknologi dan rekayasa, bisnis dan manajemen, serta pariwisata. Sedangkan sektor agribisnis dan kemaritiman mendominasi bidang wirausaha lulusan SMK di Jawa Timur. (ivan)