JAKARTA, PustakaJC.co – Menteri Sosial Saifullah Yusuf (Gus Ipul) menegaskan pentingnya kesiapan sumber daya manusia (SDM) menjelang operasional Sekolah Rakyat permanen yang mulai berjalan secara bertahap pada tahun ini. Penegasan tersebut disampaikan saat memimpin rapat koordinasi bersama kepala sekolah dan tenaga kependidikan Sekolah Rakyat se-Indonesia di Kantor Kementerian Sosial, Jakarta Pusat, Jumat, (29/5/2026).
Menurut Gus Ipul, Sekolah Rakyat permanen memiliki tantangan yang lebih besar dibandingkan Sekolah Rakyat sementara. Karena itu, seluruh pengelola sekolah diminta meningkatkan kapasitas kepemimpinan dan tata kelola pendidikan. Dilansir dari jatimpos.co, Minggu, (31/5/2026).
“Sekolah Rakyat permanen bukan versi lebih besar dari Sekolah Rakyat sementara. Ini institusi yang berbeda dan tuntutannya juga berbeda. Kepala sekolah harus bertransformasi dari pengelola program menjadi pemimpin institusi pendidikan unggulan,” ujar Gus Ipul.
Ia menjelaskan, kompleks pendidikan Sekolah Rakyat permanen yang dibangun di atas lahan seluas 7 hingga 10 hektare dengan kapasitas lebih dari 1.000 siswa SD, SMP, dan SMA membutuhkan pengelolaan yang matang. Karena itu, kesiapan SDM harus dibangun sejak sekarang, jauh sebelum sekolah resmi beroperasi.
“Mulai sekarang, bukan nanti. Kesiapan harus dibangun jauh sebelum Sekolah Rakyat permanen diresmikan,” tegasnya.
Gus Ipul juga menyoroti pentingnya penyusunan standar operasional prosedur (SOP) yang seragam di seluruh Sekolah Rakyat. Menurutnya, kualitas layanan pendidikan, kesehatan, pengasuhan, ibadah, hingga kehidupan di asrama harus memiliki standar yang sama di setiap daerah.
“Semua harus terprotokol dan terdokumentasi dengan baik. Tidak boleh ada Sekolah Rakyat yang kualitas layanannya jauh berbeda dengan yang lain,” katanya.
Selain itu, pengelolaan asrama juga menjadi perhatian khusus. Gus Ipul meminta seluruh pengelola menerapkan standar profesional karena asrama menjadi ruang pembentukan karakter siswa selama 24 jam. Untuk mendukung pengawasan, Kemensos akan memperkuat sistem berbasis teknologi, termasuk pemasangan CCTV di berbagai titik sekolah.
“Anggap seperti mengelola hotel bintang lima. Bagaimana toiletnya, bagaimana tata kelolanya, bagaimana SDM-nya. Semua harus dipersiapkan dari sekarang,” ujarnya.
Dalam kesempatan tersebut, Gus Ipul juga menyinggung peringatan satu tahun penyelenggaraan Sekolah Rakyat yang bertepatan dengan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) pada Juli mendatang. Ia menilai momentum tersebut harus menjadi bukti nyata keberhasilan program dalam membantu mengatasi kemiskinan melalui pendidikan.
“Satu tahun Sekolah Rakyat bukan seremoni, ini pembuktian bahwa program ini nyata, berdampak, dan menjawab akar persoalan kemiskinan,” tegasnya.
Untuk memperluas dukungan publik, seluruh Sekolah Rakyat diminta menyiapkan kegiatan open house yang melibatkan masyarakat, tokoh daerah, tokoh nasional, media, hingga influencer agar perkembangan program dapat dilihat secara langsung oleh masyarakat.
Sementara itu, sejumlah kepala sekolah melaporkan progres pembangunan Sekolah Rakyat permanen di berbagai daerah. Kepala SRMA 44 Minahasa, Jefta Johannes Makikui, menyampaikan bahwa Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi telah meninjau langsung aktivitas belajar mengajar di sekolahnya dan memberikan apresiasi terhadap pemanfaatan teknologi digital dalam pembelajaran.
Selain Minahasa, daerah seperti Takalar, Tual, Bireuen, hingga Natuna juga melaporkan perkembangan pembangunan yang terus berjalan serta tingginya antusiasme masyarakat terhadap kehadiran Sekolah Rakyat.
Sebagai informasi, saat ini terdapat 93 titik pembangunan Sekolah Rakyat permanen tahap II yang ditargetkan rampung pada Juni 2026 dan siap digunakan untuk kegiatan belajar mengajar pada tahun ajaran baru Juli mendatang. (ivan)