TKA SMP Jatim Tunjukkan Kesenjangan: Nilai Maksimal Ada, Tapi Rata-rata Masih 41,45

pendidikan | 05 Juni 2026 07:52

TKA SMP Jatim Tunjukkan Kesenjangan: Nilai Maksimal Ada, Tapi Rata-rata Masih 41,45
Kepala Dinas Pendidikan Jatim Aries Agung Paewai. (dok antara)

SURABAYA, PustakaJC.co – Hasil Tes Kemampuan Akademik (TKA) tingkat Sekolah Menengah Pertama (SMP) di Jawa Timur menunjukkan adanya kesenjangan capaian antar siswa. Di satu sisi, terdapat peserta didik yang mampu meraih nilai sempurna hingga 100, namun di sisi lain rata-rata nilai matematika secara provinsi masih berada di angka 41,45.

 

Kepala Dinas Pendidikan Jawa Timur, Aries Agung Paewai, mengatakan capaian tersebut tidak dapat disimpulkan sebagai penurunan kualitas pendidikan, melainkan menggambarkan ketimpangan hasil antarwilayah. Dilansir dari antaranews.com, Jumat, (5/6/2026).

 

“Kalau diakumulasikan memang kelihatannya turun. Tapi secara personal anak-anak kita ini luar biasa. Ada yang nilainya sampai 100, 95, 99,” ujarnya di Surabaya, Kamis.

 

 

 

Berdasarkan data Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, rata-rata nilai Bahasa Indonesia peserta TKA SMP di Jawa Timur mencapai 63,47, sementara matematika hanya 41,45. Total peserta TKA SMP di Jawa Timur tercatat sebanyak 587.167 siswa.

 

Dari jumlah tersebut, kategori siswa istimewa pada mata pelajaran Bahasa Indonesia hanya 0,07 persen, sedangkan pada matematika sebesar 0,03 persen. Sementara itu, kategori memadai untuk Bahasa Indonesia mencapai 50,91 persen, dan matematika 68,82 persen.

 

Aries menjelaskan, rendahnya rata-rata provinsi dipengaruhi oleh sebaran hasil yang belum merata di berbagai daerah. Beberapa wilayah masih mencatat capaian rendah sehingga menurunkan angka agregat secara keseluruhan.

 

“Karena ada beberapa wilayah yang memang turun sehingga dirata-ratakan kelihatannya rendah. Tapi sebenarnya anak-anak kita sangat kompetitif,” katanya.

 

 

 

Ia menambahkan, hasil TKA saat ini telah masuk dalam sistem Seleksi Penerimaan Murid Baru (SPMB), sehingga menjadi salah satu pertimbangan dalam jalur penerimaan siswa.

 

Ke depan, Pemerintah Provinsi Jawa Timur bersama pemerintah kabupaten/kota akan memperkuat literasi dan numerasi secara lebih merata, mengingat pengelolaan SMP berada di tingkat kabupaten/kota, sedangkan SMA/SMK menjadi kewenangan provinsi.

 

“Penguatan literasi dan numerasi harus dilakukan pemerataan di seluruh wilayah,” tegasnya. (ivan)