Ichda mengatakan penyusunan menu dilakukan secara bergantian setiap hari dengan tetap mengacu pada standar kebutuhan gizi. Pihaknya juga membuka ruang bagi sekolah maupun siswa untuk memberikan masukan terhadap variasi menu yang disajikan.
“Kami menerima saran dari sekolah maupun anak-anak terkait menu. Setelah itu kami diskusikan dengan tim gizi agar tetap sesuai standar, lalu kami laksanakan,” jelas Ichda.
Terkait adanya siswa yang menilai porsi makanan kurang banyak, Ichda menjelaskan bahwa ukuran porsi telah disesuaikan berdasarkan kelompok usia dan kebutuhan gizi masing-masing. Siswa kelas 1 hingga kelas 3 SD menerima porsi yang berbeda dengan siswa kelas 4 hingga kelas 6 maupun guru.
“Perbedaan porsi itu sudah disesuaikan dengan kebutuhan gizi masing-masing kelompok usia, jadi bukan karena perlakuan yang berbeda,” pungkasnya. (ivan)