Menurutnya, perluasan Sekolah Rakyat menjadi bagian dari upaya pemerintah menjangkau anak-anak yang selama ini berada di luar sistem pendidikan. Pemerintah juga menghadapi tantangan dalam menemukan dan mengajak anak-anak tersebut kembali mengikuti pembelajaran.
Saifullah mencontohkan, sejumlah pendamping bahkan harus meluangkan waktu hingga 24 jam untuk melacak keberadaan anak-anak yang menjadi sasaran program.
Selain menyasar anak putus sekolah, pemerintah juga memperluas program bagi anak-anak yang pada jam sekolah justru mengamen atau mencari penghasilan di pasar dan tempat umum.
Dalam program rintisan tambahan di Kabupaten Tangerang, Kemensos telah menjangkau sekitar 400 anak jalanan. Dari jumlah tersebut, 300 anak telah menjalani asesmen dan memenuhi syarat untuk mengikuti pembelajaran di Sekolah Rakyat.
Sementara lebih dari 100 anak lainnya masih membutuhkan proses penyetaraan atau matrikulasi sebelum mengikuti pembelajaran. Kondisi tersebut antara lain disebabkan kemampuan membaca yang belum memadai, persoalan kesehatan, serta berbagai permasalahan sosial lainnya.