Ribuan peserta didik tersebut berhasil menyelesaikan masa basis ketarunaan selama kurang lebih tiga bulan. Khofifah menilai fase gemblengan awal ini sangat krusial dalam membentuk fisik, kemandirian, cara berpikir, hingga jiwa kepemimpinan para taruna-taruni.
Secara khusus, Gubernur Jatim juga menggarisbawahi pentingnya menciptakan ekosistem pendidikan ketarunaan yang humanis. Ia melarang keras adanya praktik perundungan maupun bentuk kekerasan fisik di lingkungan sekolah.
"Disiplin tidak identik dengan kekerasan. Ketegasan harus berjalan bersama keteladanan, dan kepemimpinan harus tumbuh bersama rasa hormat kepada sesama," ujarnya.
Selain nilai-nilai karakter dasar, Khofifah mengingatkan para siswa untuk adaptif terhadap perkembangan teknologi modern, termasuk kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI), tanpa mengikis nasionalisme dan moralitas demi menyongsong Indonesia Emas 2045.