KH Sya’roni Ahmadi

Ulama Qiraat dari Kudus dan Pewaris Keilmuan Al-Qur’an

tokoh | 06 November 2025 08:56

Ulama Qiraat dari Kudus dan Pewaris Keilmuan Al-Qur’an
KH Syaroni Ahmadi. (dok nuonline)

KUDUS, PustakaJC.co – Kota santri Kudus kembali menorehkan nama besar dalam sejarah keilmuan Islam melalui sosok KH Muhammad Sya’roni Ahmadi, ulama ahli qiraat yang mewariskan karya monumental Faidhul Asani, kitab penting dalam studi bacaan Al-Qur’an (qiraat sab’ah).

 

Lahir di Kudus pada 17 Agustus 1931, KH Sya’roni dikenal sebagai sosok yang cerdas dan tekun sejak kecil. Pada usia 11 tahun ia telah hafal Nadham Alfiyah, dan tiga tahun kemudian menuntaskan hafalan Al-Qur’an 30 juz. Ia menimba ilmu dari sejumlah kiai terkemuka seperti KH Arwani Amin, KHR Asnawi, KH Turaichan Adjuhri, dan Sayyid Abdillah Dema’an. Dilansir dari nu.or.id, Kamis, (6/11/2025).

 

Ketekunannya dalam bidang qiraat membuat namanya dikenal luas. Bahkan pada 1953, Presiden Soekarno secara khusus mengundangnya ke Istana Negara untuk membacakan Al-Qur’an dengan qira’at sab’ah.

 

 

Hingga akhir hayatnya pada 27 April 2021 (15 Ramadan 1442 H), KH Sya’roni mengabdikan hidupnya untuk pendidikan dan dakwah. Ia aktif mengajar di Madrasah Qudsiyyah dan Madrasah Diniyyah Nahdlatul Ulama Keradenan Kudus, serta memimpin pengajian Tafsir Jalalain di Masjidil Aqsha Menara Kudus setiap Jumat pagi.

 

Selain berdakwah, beliau produktif menulis kitab keislaman, di antaranya Al-Faraid al-SaniyahAl-Qira’ah al-AsriyyahAl-Tasrih al-Yasir fi Ilmi al-Tafsir, dan yang paling dikenal, Faidhul Asani ‘ala Hirz al-Amani wa Wajh al-Tahani — syarah atas Matan Syatibiyyah karya Imam Asy-Syatibi. Kitab ini terdiri dari tiga jilid dan menjadi referensi utama dalam studi qiraat di Indonesia.

 

Melalui karyanya itu, KH Sya’roni meneguhkan posisi Kudus sebagai pusat keilmuan Al-Qur’an. Pemikiran dan karya beliau kini terus diajarkan di berbagai pesantren, termasuk di Ma’had Aly Yanbu’ul Qur’an, lembaga pendidikan tinggi di bawah Yayasan Arwaniyyah yang melestarikan tradisi qiraat dan tafsir.

 

Bagi masyarakat Kudus, KH Sya’roni bukan sekadar ulama tafsir dan qiraat, tetapi juga teladan ketulusan dan keikhlasan dalam berkhidmah kepada umat. Kepergiannya meninggalkan warisan intelektual yang terus hidup dalam santri-santrinya dan karya tulisnya yang abadi. (ivan)