Ajaran Nasionalisme dari Pesantren
Yang menarik, jauh sebelum konsep nasionalisme dikenal luas, Syaikhona Kholil sudah menanamkan nilai cinta tanah air kepada para santrinya. Dalam sejumlah catatannya, beliau menegaskan bahwa “hubbul wathan minal iman” (cinta tanah air adalah bagian dari iman).
Pandangan ini menjadi dasar bagi perjuangan kaum santri melawan kolonialisme, bukan dengan senjata semata, tetapi dengan pendidikan dan dakwah yang menumbuhkan kesadaran kebangsaan.
“Beliau mengajarkan bahwa menjadi santri bukan hanya belajar agama, tetapi juga mencintai bangsa. Dari tangan beliau, lahir generasi yang mencintai Indonesia karena Allah,” ujar KH. Ahmad Zaini, pengasuh salah satu pesantren di Bangkalan, dalam sambutan usai doa bersama di makam Syaikhona Kholil.
Selain dikenal alim dan kharismatik, Syaikhona Kholil juga dikenal memiliki karamah (keistimewaan spiritual) yang diyakini banyak santrinya. Namun yang paling berharga bukanlah kisah-kisah mistik, melainkan nilai-nilai ketulusan, keilmuan, dan perjuangan yang diwariskan hingga kini.