Menurutnya, kehidupan selalu mengalami perubahan (al-‘alamu mutaghayyirun). Karena itu, manusia tidak seharusnya mengeluh atau merasa paling benar. Sikap menerima perubahan dengan lapang dada dan penuh syukur menjadi bagian penting dari akhlak seorang muslim.
KHR Asnawi Kudus wafat pada Jumat dini hari, 25 Desember 1959, dalam usia sekitar 98 tahun. Kabar wafatnya dimuat Harian Duta Masyarakat edisi 28 Desember 1959. Media tersebut menyebutkan bahwa beliau wafat tidak lama setelah menghadiri Muktamar ke-22 NU di Jakarta, meski kondisi fisiknya sudah sangat sepuh.
Dalam catatan KH Saifuddin Zuhri, KHR Asnawi masih sempat melakukan perjalanan panjang dari Kudus ke Jakarta dan kembali lagi, menempuh jarak lebih dari 1.000 kilometer. Di setiap tempat singgah, ia tetap menyempatkan diri bersilaturahmi, sebagaimana kebiasaannya sepanjang hidup.