Tak hanya soal ekonomi, Kiai Zuhri juga dikenal menekankan dakwah kultural yang bijak. Ia mencontohkan bagaimana KH Zaini Mun’im mengubah tradisi sesajen di sawah menjadi tumpengan yang disertai doa Yasin dan Tahlil, tanpa memutus akar budaya masyarakat.
“Perubahan dilakukan dengan hikmah, bukan dengan amarah apalagi kekerasan,” ujarnya.
Dalam bidang pendidikan, Kiai Zuhri melanjutkan warisan intelektual pesantren dengan mempertahankan kurikulum terpadu. Pesantren Nurul Jadid sejak awal menggabungkan ilmu agama dan ilmu umum, jauh sebelum konsep pendidikan integratif menjadi arus utama nasional.