Hadipras

Noble Lie: Pahitnya Kelas Menengah

tokoh | 04 April 2026 13:10

Noble Lie: Pahitnya Kelas Menengah
Hadipras - Pengamat Sosial dan Politik

SURABAYA, PustakaJC.co - Dalam filsafat politik klasik, Plato memperkenalkan konsep Noble Lie atau "Kebohongan Mulia"—sebuah narasi buatan penguasa yang disebarkan demi menjaga harmoni dan stabilitas sosial. Di era modern, konsep ini bertransformasi menjadi Systemic Preservation (Pelestarian Sistem). Logikanya sederhana namun berwajah dingin: demi mencegah kepanikan pasar dan chaos sosial, narasi optimisme harus terus diproduksi, meskipun fondasi ekonomi di bawahnya mulai retak.

Kepemimpinan sejati, seperti kata Vaclav Havel, seharusnya menghadirkan harapan di tengah penderitaan dan peluang di tengah kehilangan. Aura kepemimpinan yang bijak dan heroik dapat dipahami masyarakat, jika dan hanya jika pemimpin tersebut tidak mengambil langkah ugal-ugalan serta jujur berpihak pada mereka yang lemah.

Bagi kelas menengah Indonesia, narasi optimisme ini kian hari kian terasa seperti fatamorgana. Data berbicara lebih keras dari retorika: sepanjang 2019-2024, jumlah kelas menengah anjlok sebanyak 9 juta orang, dan pada tahun 2025 saja, menyusul 1,1 juta orang lainnya yang terlempar dari zona nyaman mereka. Ironisnya, belum terlihat respons serius dari pemegang otoritas.