Di tengah laporan pertumbuhan PDB yang konstan di angka 5%, terdapat realitas yang tidak tertangkap oleh radar statistik sektoral: sebuah deplesi daya beli yang sistematis. Menggunakan kacamata ekonomi spasial, kelas menengah adalah "lahan produktif" yang terus dipanen tanpa jeda pemulihan. Mereka adalah pembayar pajak yang patuh dan konsumen yang loyal, namun menjadi kelompok yang paling minim menerima subsidi negara.
Beban biaya hidup—pendidikan, kesehatan, hingga cicilan hunian—meningkat jauh lebih cepat daripada kenaikan pendapatan riil. Inilah yang kita sebut sebagai fenomena Tired Soil (Tanah Lelah) dalam struktur ekonomi kita. Nutrisi ekonomi kelas menengah terus diperas untuk menopang defisit anggaran dan ambisi pembangunan infrastruktur masif, sementara daya regenerasi finansial mereka melemah.
Akibatnya, alih-alih naik kelas, banyak yang justru tergelincir kembali ke zona "rentan miskin." Indikasi Bank Dunia bahwa kemiskinan di Indonesia sebagai negara berkembang menengah atas sekitar 60% menjadi makin tidak bisa dipungkiri.