Ketertarikannya pada ilmu falak bermula dari perbedaan penetapan awal Ramadan dan Idulfitri di kalangan warga NU pada awal 1990-an. “Saya belajar ilmu falak sekitar umur 21 tahun lewat guru Mbah Zubair. Dulu terjadi perbedaan antarwarga NU sendiri, padahal hilal itu satu di dunia. Dari situ saya mulai rukyat dulu, baru belajar hisab,” jelasnya.
Ia memperdalam ilmu falak kepada sejumlah guru, di antaranya KH Zubair Abdul Karim dan Kiai Ghazali Madura. Awalnya, observasi hilal dilakukan hanya saat Ramadan, Syawal, dan Dzulhijjah, namun sejak menetap di Bukit Condrodipo, pemantauan bisa dilakukan setiap bulan.
Menariknya, dari puluhan tahun pengalaman rukyat, Gus Muid mengaku hanya sekali melihat hilal dengan mata telanjang.
“Sejak 1995 sampai sekarang, hanya pernah melihat dengan mata telanjang satu kali. Itu pun karena ketinggiannya di atas enam derajat. Sekarang ketinggian tiga derajat saja sudah dianggap imkanur rukyat,” ujar Gus Muid.