Selain aktif di dunia akademik, Prof. Sri Mulyati juga memiliki rekam jejak kuat dalam organisasi keagamaan. Ia pernah memimpin Fatayat Nahdlatul Ulama selama dua periode (1989–2000), menjadi pengurus Muslimat NU, serta anggota Lembaga Bahtsul Masail PBNU.
Perjalanan organisasional tersebut menegaskan keyakinannya bahwa tasawuf tidak memisahkan diri dari realitas sosial. Justru sebaliknya, spiritualitas yang mendalam memperkuat keberpihakan pada umat dan mendorong keterlibatan aktif dalam kehidupan masyarakat.
Ia juga kerap merujuk teladan para sufi seperti Hasan al-Syazhili, yang tetap aktif membangun masyarakat tanpa meninggalkan kedalaman spiritual.
Prof. Sri Mulyati menilai perkembangan teknologi dan modernisasi telah membawa kemajuan material, tetapi juga memicu krisis makna, tekanan psikologis, dan alienasi sosial. Dalam konteks itu, tasawuf menawarkan solusi berupa ketenangan jiwa, kejernihan hati, dan orientasi hidup yang transenden.