Mojtaba Khamenei

Pemimpin Tertinggi Iran Terbaru

tokoh | 10 Maret 2026 04:53

Pemimpin Tertinggi Iran Terbaru
Mojtaba Khmaenei Pemimpin Tertingi Iran yang baru. (dok suarasurabaya)

SURABAYA, PustakaJC.co – Mojtaba Khamenei resmi terpilih sebagai Pemimpin Tertinggi Iran, menggantikan ayahnya Ali Khamenei yang wafat setelah serangan yang melibatkan Amerika Serikat dan Israel.

 

Keputusan tersebut diumumkan oleh Assembly of Experts pada Minggu, (8/3/2026). Lembaga yang beranggotakan 88 ulama itu memiliki kewenangan memilih pemimpin tertinggi Republik Islam Iran.

 

Dalam pernyataan resminya, Majelis Ahli menyebut Mojtaba sebagai pemimpin ketiga dalam sistem Republik Islam Iran.

 

“Melalui pemungutan suara yang tegas, Majelis Ahli menunjuk Ayatollah Seyyed Mojtaba Hosseini Khamenei sebagai pemimpin ketiga sistem suci Republik Islam Iran,” demikian pernyataan lembaga tersebut, dikutip dari suarasurabaya.net, Selasa, (10/3/2026).

 

 

Majelis Ahli juga mengajak masyarakat Iran untuk bersatu di bawah kepemimpinan baru, terutama kalangan elite, ulama, dan akademisi dari lingkungan universitas.

 

Dukungan terhadap kepemimpinan Mojtaba segera datang dari sejumlah institusi penting negara. Pimpinan militer Iran menyatakan kesetiaan kepada pemimpin baru, sementara Islamic Revolutionary Guard Corps menegaskan siap mengikuti arah kebijakan yang ditetapkan.

 

Ketua parlemen Iran bahkan menyebut mengikuti kepemimpinan Mojtaba sebagai “kewajiban agama dan nasional”. Dukungan juga datang dari kelompok Houthi movement di Yaman yang menyambut keputusan tersebut.

 

 

Mojtaba Khamenei berusia 56 tahun dan dikenal sebagai figur berpengaruh di lingkaran kekuasaan Iran, meski jarang tampil di ruang publik.

 

Ia lahir pada 1969 di Mashhad dan tumbuh dalam lingkungan politik serta keagamaan kuat setelah Iranian Revolution yang dipimpin Ruhollah Khomeini.

 

Mojtaba menempuh pendidikan teologi di kota suci Qom dan dilaporkan sempat terlibat pada tahap akhir Iran–Iraq War.

 

Berbeda dengan banyak tokoh politik Iran, Mojtaba tidak pernah menduduki jabatan resmi pemerintahan. Namun ia dikenal memiliki pengaruh kuat di kantor ayahnya serta menjalin hubungan dekat dengan ulama konservatif dan unsur IRGC.

 

Namanya mulai banyak disorot saat pemilihan presiden Iran 2009 yang memicu demonstrasi besar-besaran. Saat itu sejumlah tokoh reformis menuduhnya terlibat dalam dukungan terhadap tindakan keamanan terhadap massa demonstran. (ivan)