Kartini 2026 Berdaya Mewujudkan Indonesia Emas 2045

Tiat S. Suwardi: Kartini Hari Ini Hidup di Ruang Baca dan Waktu yang Diperjuangkan

tokoh | 21 April 2026 07:42

Namun, Tiat mengingatkan, capaian itu tidak berarti tanpa tantangan.

“Kesehatan mental dan peran ganda masih jadi isu. Ini klasik, tapi nyata,” katanya.

 

 

 

 

Malam perlahan turun di gedung Disperpusip Jawa Timur. Namun suasana tak juga mereda. Sejak layanan diperpanjang hingga pukul 20.00 WIB pada September 2025, arus pengunjung justru terus mengalir—silih berganti, seakan waktu tak lekang di antara rak-rak buku. Sebagian datang selepas kerja, sebagian lain masih tenggelam dalam bacaan, memanfaatkan sisa waktu yang tersedia.

Di tengah suasana itu, Tiat menyampaikan pesannya untuk perempuan muda.

Di tingkat kebijakan, Pemprov Jatim telah memiliki Perda Nomor 9 Tahun 2019 tentang Pengarusutamaan Gender. Namun bagi Tiat, regulasi saja tidak cukup. Perubahan harus dimulai dari kesadaran individu—terutama perempuan muda.

Pesannya sederhana, tetapi dalam: terus belajar.

“Tingkatkan kualitas diri, bangun lingkungan yang saling mendukung, dan jadilah versi terbaik dari diri sendiri,” tegasnya.

Ia juga menekankan pentingnya penguasaan teknologi, jejaring kolaborasi, serta kecerdasan emosional di era modern. Namun, satu hal yang tak boleh hilang adalah fondasi nilai dan spiritualitas.

“Perempuan tangguh itu yang cerdas, gigih, melek digital, peduli lingkungan, dan tetap berpegang pada nilai agama. Menjadi muslimah salihah itu penting, karena dari situlah keseimbangan hidup terbentuk,” ujarnya.

 

 

 

 

Bagi Tiat, perjuangan Kartini hari ini bukan lagi sekadar melawan keterbatasan, tetapi memberi makna.

“Harapan saya, semakin banyak perempuan yang berkontribusi bagi masyarakat. Dihargai bukan hanya karena perannya, tapi karena pemikiran dan integritasnya.”

Di ruang literasi itu, Kartini tidak lagi sekadar dikenang. Ia sedang dilanjutkan. (ivan)