SURABAYA, PustakaJC.co — Sore mulai merambat pelan di kantor Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Jawa Timur. Cahaya matahari yang menipis masuk lewat jendela kaca, memantul di rak-rak buku yang tersusun rapi. Di sudut ruang, aktivitas tak benar-benar berhenti. Beberapa pengunjung masih tekun membaca, sebagian lain berdiskusi pelan.
Di tengah suasana itu, Kepala Disperpusip Jatim, Tiat S. Suwardi, berbicara tentang satu nama yang tak lekang oleh waktu: Raden Ajeng Kartini.
Bagi Tiat, Kartini bukan sekadar tokoh sejarah. Ia adalah simbol kesempatan.
“Maknanya sederhana tapi kuat. Perempuan dan laki-laki punya kesempatan yang sama untuk mengakses pendidikan dan pengetahuan. Tidak ada diskriminasi gender,” ujar Tiat S. Suwardi kepada jurnalis PustakaJC.co, Senin, (20/4/2026).
Perjalanan Tiat sebagai perempuan karier tidak lahir tiba-tiba. Ia menyebut dua sosok yang paling memengaruhi hidupnya: ibunya sendiri, dan Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa.
“Ibu saya membentuk karakter. Beliau juga wanita karier. Dari situ saya belajar,” katanya.
Dari Khofifah, ia melihat bagaimana kepemimpinan perempuan bisa tetap seimbang antara rumah dan jabatan publik.
“Itu tidak mudah. Perlu energi luar biasa. Tapi bisa dilakukan,” tambahnya.

Sore makin turun. Lampu-lampu ruangan mulai menyala. Aktivitas di perpustakaan belum juga sepi.
Di balik jabatan, Tiat tak menampik tantangan terbesar perempuan karier: waktu.
“Keseimbangan antara rumah dan kantor itu tantangan utama. Waktu harus diatur, tapi yang lebih penting adalah kualitasnya,” jelasnya.
Baginya, menjadi pemimpin bukan sekadar soal keputusan, tapi juga soal kepekaan. Ia menyebut empati, ketelitian, dan kemampuan multitasking sebagai kekuatan khas perempuan dalam sektor publik.
“Perempuan itu lebih persuasif. Tidak langsung memutuskan, tapi membangun komunikasi dulu,” ujarnya.
Data di Disperpusip Jatim menunjukkan fakta menarik: mayoritas pengunjung adalah perempuan, mencapai sekitar 65–70 persen.
Bagi Tiat, angka itu bukan kebetulan.
“Sebagian besar mereka mahasiswa. Tapi ke depan, mereka adalah ibu. Dari merekalah budaya membaca dimulai di keluarga,” katanya.
Ia menekankan, perempuan memegang peran kunci dalam membangun generasi literat. Bahkan, menurutnya, peran itu dimulai dari rumah.
“Ibu adalah madrasah pertama. Dari situlah anak mengenal ilmu dan nilai,” ujarnya.
Mengacu data Badan Pusat Statistik, kondisi perempuan di Jawa Timur menunjukkan tren positif.
Indeks Pembangunan Gender (IPG) Jawa Timur pada 2025 tercatat 93,29, naik dari 93,05 pada 2024, dan lebih tinggi dari rata-rata nasional yang berada di angka 91,85. Selain itu, tingkat pengangguran terbuka perempuan juga relatif lebih rendah dibandingkan laki-laki.
Tak hanya itu, keterlibatan perempuan di ruang publik juga terus meningkat, termasuk dalam posisi kepemimpinan di berbagai sektor.
Namun, Tiat mengingatkan, capaian itu tidak berarti tanpa tantangan.
“Kesehatan mental dan peran ganda masih jadi isu. Ini klasik, tapi nyata,” katanya.

Malam perlahan turun di gedung Disperpusip Jawa Timur. Namun suasana tak juga mereda. Sejak layanan diperpanjang hingga pukul 20.00 WIB pada September 2025, arus pengunjung justru terus mengalir—silih berganti, seakan waktu tak lekang di antara rak-rak buku. Sebagian datang selepas kerja, sebagian lain masih tenggelam dalam bacaan, memanfaatkan sisa waktu yang tersedia.
Di tengah suasana itu, Tiat menyampaikan pesannya untuk perempuan muda.
Di tingkat kebijakan, Pemprov Jatim telah memiliki Perda Nomor 9 Tahun 2019 tentang Pengarusutamaan Gender. Namun bagi Tiat, regulasi saja tidak cukup. Perubahan harus dimulai dari kesadaran individu—terutama perempuan muda.
Pesannya sederhana, tetapi dalam: terus belajar.
“Tingkatkan kualitas diri, bangun lingkungan yang saling mendukung, dan jadilah versi terbaik dari diri sendiri,” tegasnya.
Ia juga menekankan pentingnya penguasaan teknologi, jejaring kolaborasi, serta kecerdasan emosional di era modern. Namun, satu hal yang tak boleh hilang adalah fondasi nilai dan spiritualitas.
“Perempuan tangguh itu yang cerdas, gigih, melek digital, peduli lingkungan, dan tetap berpegang pada nilai agama. Menjadi muslimah salihah itu penting, karena dari situlah keseimbangan hidup terbentuk,” ujarnya.

Bagi Tiat, perjuangan Kartini hari ini bukan lagi sekadar melawan keterbatasan, tetapi memberi makna.
“Harapan saya, semakin banyak perempuan yang berkontribusi bagi masyarakat. Dihargai bukan hanya karena perannya, tapi karena pemikiran dan integritasnya.”
Di ruang literasi itu, Kartini tidak lagi sekadar dikenang. Ia sedang dilanjutkan. (ivan)