Situasi akhirnya mereda setelah tokoh agama setempat, Carlos Filipe Ximenes Belo, turun tangan dan memberikan jaminan keamanan. Pendekatan dialog dan kepercayaan menjadi kunci meredam konflik saat itu.
Puncak ketegangan terjadi pada hari kunjungan. Saat rombongan Presiden melintas di kawasan Jembatan Komoro, tiba-tiba terdengar rentetan tembakan yang mengarah ke iring-iringan.
“Ketika di jembatan Komoro itu rombongan Presiden ditembaki,” ungkap Victor.
Tembakan diduga berasal dari kelompok milisi yang masih menolak kehadiran Indonesia. Meski dalam situasi berbahaya, rombongan tetap berhasil melanjutkan perjalanan dengan pengamanan ketat dan koordinasi bersama pasukan perdamaian PBB.
Dalam kunjungan tersebut, Abdurrahman Wahid juga menyampaikan permohonan maaf kepada Presiden Timor Leste saat itu, Xanana Gusmão, serta keluarga korban tragedi Santa Cruz sebagai bagian dari upaya rekonsiliasi.
Peristiwa ini menjadi potret kepemimpinan humanis Abdurrahman Wahid. Di tengah ancaman nyata, Gus Dur tetap memilih jalan dialog—menegaskan bahwa perdamaian lebih kuat daripada kekerasan. (ivan)