SURABAYA, PustakaJC.co - Kunjungan Presiden ke-4 RI, Abdurrahman Wahid atau Gus Dur ke Timor Leste pada tahun 2000 bukan sekadar agenda kenegaraan. Di balik misi rekonsiliasi, tersimpan kisah mencekam ketika rombongan kepresidenan sempat menjadi sasaran tembakan.
Langkah damai yang dibawa Abdurrahman Wahid ke Timor Leste diwarnai situasi yang jauh dari kata aman. Saat itu, kondisi sosial-politik masih memanas pascakonflik dan lepasnya Timor Leste dari Indonesia.
Mantan Komandan Pusat Misi Pemeliharaan Perdamaian (PMPP) TNI, Victor Hasudungan Simatupang, mengungkapkan bahwa sehari sebelum kunjungan Presiden, tim Pasukan Pengamanan Presiden (Paspampres) telah lebih dulu melakukan survei keamanan di sejumlah titik rawan.
Namun, kehadiran mereka justru memicu kecurigaan warga setempat. Rombongan dianggap sebagai simbol kembalinya kekuatan Indonesia yang ingin kembali menguasai wilayah tersebut. Ketegangan sempat tak terhindarkan hingga kedua pihak berada dalam posisi berhadapan.
Situasi akhirnya mereda setelah tokoh agama setempat, Carlos Filipe Ximenes Belo, turun tangan dan memberikan jaminan keamanan. Pendekatan dialog dan kepercayaan menjadi kunci meredam konflik saat itu.
Puncak ketegangan terjadi pada hari kunjungan. Saat rombongan Presiden melintas di kawasan Jembatan Komoro, tiba-tiba terdengar rentetan tembakan yang mengarah ke iring-iringan.
“Ketika di jembatan Komoro itu rombongan Presiden ditembaki,” ungkap Victor.
Tembakan diduga berasal dari kelompok milisi yang masih menolak kehadiran Indonesia. Meski dalam situasi berbahaya, rombongan tetap berhasil melanjutkan perjalanan dengan pengamanan ketat dan koordinasi bersama pasukan perdamaian PBB.
Dalam kunjungan tersebut, Abdurrahman Wahid juga menyampaikan permohonan maaf kepada Presiden Timor Leste saat itu, Xanana Gusmão, serta keluarga korban tragedi Santa Cruz sebagai bagian dari upaya rekonsiliasi.
Peristiwa ini menjadi potret kepemimpinan humanis Abdurrahman Wahid. Di tengah ancaman nyata, Gus Dur tetap memilih jalan dialog—menegaskan bahwa perdamaian lebih kuat daripada kekerasan. (ivan)