Kiai Cholil Wakili Indonesia di KTT Tokoh Agama Dunia 2026,

Serukan Kolaborasi Selamatkan Generasi Muda

tokoh | 15 Juni 2026 05:21

Serukan Kolaborasi Selamatkan Generasi Muda
Dok mui.or.id

SURABAYA, PustakaJC.co - Di tengah kekhawatiran dunia terhadap krisis moral, ekstremisme, dan dampak negatif era digital, Indonesia kembali mengambil peran penting dalam percaturan global. Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI), KH M Cholil Nafis, dipercaya mewakili Indonesia dalam The Third International Summit of Religious Leaders 2026 atau KTT Tokoh Agama Dunia yang digelar di Kuala Lumpur, Malaysia. 

 

Forum internasional yang mempertemukan para pemimpin agama dan tokoh dunia tersebut berlangsung di Grand Ballroom Kuala Lumpur Convention Center (KLCC), Jumat (12/6/2026). Kehadiran Kiai Cholil menegaskan posisi Indonesia sebagai salah satu rujukan dunia dalam pengembangan nilai-nilai Islam moderat, toleran, dan berorientasi pada perdamaian. 

 

Dalam forum bergengsi itu, Kiai Cholil berada dalam satu panggung kehormatan bersama Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim, Sekretaris Jenderal Liga Muslim Dunia Mohammad bin Abdul Karim Al-Issa, serta Menteri di Jabatan Perdana Menteri Bidang Agama Malaysia Zulkifli bin Hasan. 

 

 

KTT Tokoh Agama Dunia 2026 mengangkat tema besar tentang peran pemimpin agama dalam memberdayakan generasi muda untuk membangun masa depan yang damai dan harmonis. Tema tersebut dinilai semakin relevan di tengah perubahan sosial yang berlangsung begitu cepat akibat perkembangan teknologi dan globalisasi. 

 

Di hadapan para pemimpin dunia, Kiai Cholil mengingatkan bahwa generasi muda saat ini menghadapi tantangan multidimensi yang tidak ringan. Mulai dari kemerosotan moral, ancaman ekstremisme, penyalahgunaan narkoba, hingga derasnya pengaruh negatif media digital yang dapat memengaruhi pola pikir dan perilaku generasi penerus. 

 

Menurutnya, membangun generasi muda yang tangguh tidak bisa dibebankan kepada satu pihak semata. Diperlukan kerja sama antara pemimpin agama, lembaga pendidikan, pemerintah, serta masyarakat agar lahir generasi yang memiliki kecerdasan intelektual sekaligus kekuatan moral dan spiritual. 

 

 

Dalam paparannya, Kiai Cholil menawarkan tiga fokus utama yang perlu diperkuat oleh para pemimpin agama di berbagai negara. Pertama, penguatan identitas agama dan intelektual. Kedua, penguatan nilai moral dan spiritual. Ketiga, dukungan terhadap pendidikan serta kepemimpinan generasi muda sebagai bekal menghadapi tantangan masa depan. 

 

Pengasuh Pondok Pesantren Cendekia Amanah itu menegaskan bahwa pemuda yang dibekali ilmu pengetahuan, karakter kuat, dan kepemimpinan yang baik akan menjadi fondasi utama terciptanya masyarakat yang damai, harmonis, dan sejahtera. Ia juga menekankan pentingnya kolaborasi nyata antara tokoh agama dan generasi muda demi menjaga keberlangsungan peradaban dunia yang lebih baik. 

 

Partisipasi Kiai Cholil dalam forum tersebut sekaligus memperkuat diplomasi keagamaan Indonesia di tingkat global. Di tengah berbagai tantangan yang dihadapi dunia saat ini, suara Indonesia kembali hadir membawa pesan moderasi, kerukunan, dan penguatan generasi muda sebagai kunci masa depan peradaban. 

(int)