Merasa tidak memperoleh kepastian, Soehoed akhirnya melaporkan persoalan tersebut langsung kepada Presiden Soeharto. Awalnya, Presiden meminta agar persoalan kembali diselesaikan melalui koordinasi dengan para menteri terkait.
Namun setelah laporan kedua menyebutkan anggaran tetap belum turun, Soeharto langsung mengambil tindakan. Pada sore hari, ia mengumpulkan Wakil Presiden Sri Sultan Hamengkubuwana IX bersama seluruh jajaran menteri ekonomi di kediaman pribadinya di Jalan Cendana, Jakarta.
Dalam pertemuan itulah Soeharto melontarkan teguran keras kepada para pembantunya karena dinilai tidak memberikan perhatian serius terhadap proyek yang menjadi prioritas pembangunan nasional.
Menurut penuturan A.R. Soehoed yang dikutip dalam buku Dari Soekarno sampai SBY: Intrik & Lobi Politik Para Penguasa karya Tjipta Lesmana, Soeharto menegaskan bahwa Proyek Asahan merupakan investasi jangka panjang yang sangat penting bagi masa depan industrialisasi Indonesia sehingga harus didukung dengan anggaran yang memadai.
Suasana rapat pun berubah tegang. Para menteri memilih diam dan tidak ada yang berani memberikan tanggapan ketika Presiden menyampaikan kemarahannya.